Tagged: sosial

KEMATIAN ZYGMUNT BAUMAN HARI INI

Hari ini, salah satu ilmuan sosial paling berpengaruh di abad ke-20 meninggal dunia. Ia adalah seorang filsuf dan sosiolog yang berangkat dari kemasygulan terhadap fasisme dan modernitas semu, holocaust dan konsumerisme tanpa batas. Bauman berhasil memposisikan rongrongan fasisme dalam perjuangan, dari perjuangan fisik dan Cross of Valuour, hingga perjuangan akademik dan Penghargaan Adorno. Konsistensi kritik dan analisisnya terhadap psuedo-modernitas terus bertahan hingga akhir hayatnya, dan buku terakhirnya (yang baru akan terbit akhir bulan ini) berjudul Retrotopia, merupakan proses dialektika kritisnya terhadap Utopia ala Thomas More. Jika dalam Utopia, eksistensi harmoni antara sosial-ekonomi serta politik dan religiusitas berada pada pulau yang berbentuk bulan sabit dan ratusan mil nan jauh disana, dalam Retrotopia, semuanya justru ada di masa lampau, di tempat saat ini manusia berpijak. Bauman untuk terakhir kalinya, mengajak manusia menelisik masa lampau yang terabaikan, anomi yang justru dianggap fungsi, dan kebenaran yang diterima tanpa didekonstruksi. Selanjutnya->

Advertisements

Émile Durkheim: On Suicide

51xvoaslfnl-_sx314_bo1204203200_

“At each moment of its history, therefore, each society has a definite aptitude for suicide…”

Durkheim memulai tulisannya dengan deretan argumen penolakan terhadap tesis deterministik psikologis para ilmuan abad ke-19 yang menyatakan bunuh diri sebagai gejala “penyimpangan” individu. Ia dengan tegas menyatakan bahwa persoalan bunuh diri adalah persoalan interaksi sosial, persoalan kelembagaan dan berbagai dinamika di dalamnya. Ia juga menawarkan gagasan sosiologis “ilmiah” yang cenderung diabaikan, dan meyakinkan bahwa ilmu pengetahuan sosial dapat bekerja dengan baik dalam ruang positivistik. Membaca tulisan Durkheim dalam Suicide, tak ayal seperti membaca seorang resep dari patolog sosial yang banyak terpengaruh dengan gagasan politik Machiavelli. Ia menggiring fakta secara provokatif, namun apik, dan membentuk konsep bunuh diri menjadi sangat mudah untuk dipahami.

Dalam Suicide, kita dibawa pada gaya pemahaman ala strukturalisme yang luas dan evokatif. Ia berkali-kali menyebutkan tentang fakta sosial (social facts) sebagai kata kunci, atau sebuah substansi ekternal yang secara dialektis terinternalisasi dalam tubuh-tubuh individu dalam masyarakat, yang pada akhirnya juga membentuk pola dan kehidupan individu (dan masyarakat) itu sendiri. Itulah mengapa pada Hal. 278 dengan tegas ia menyatakan “it is not true that society is made up only of individuals; it also includes material things, which play an essential role in the common life“. “Material” tersebutlah yang tersimbolisasi, menjadi sarana interaksi dan dikonstruksikan bersama oleh masyarakat menjadi “substansi eksternal-substansi eksternal” yang dinamis dan hidup dalam ruang dan waktu tertenu.

Itulah mengapa menjadi mengasyikkan ketika ia melakukan komparasi kohesivitas sosial dengan intensitas bunuh diri di beberapa ruang yang berbeda, atau secara spesifik di “ruang budaya” atau “ruang agama” yang berbeda di Eropa pada masanya. Pada akhirnya, buku ini adalah sebuah pengantar yang sangat nyaman dan cukup mudah dicerna oleh siapapun yang bertanya metode kerja sosiologi dalam argumen positivistik. Walaupun penuh dengan kritik, buku ini adalah karya paling monumental yang pernah diciptakan dalam tradisi fungsional – positivisme ilmu sosial. (04/06/16)

MUTASI RUANG ALKOHOL

Jan Pieterszoon Coen pada Tahun 1619 pernah menulis, “bangsa kita harus minum atau mati“. Entah bangsa mana yang ia maksud, apakah Belanda ataukah Imperium Belanda (Hindia Belanda) itu sendiri. Namun yang pasti, pada era tersebut Gin dan Arak Batavia menjadi minuman kesohor di Hindia Belanda, mengundang banyak peminum baru yang gemar lontang-lantung setiap hari. Kapten Cook, seorang navigator besar dari Inggris, bahkan menyatakan bahwa seorang kakek 70 tahun di kapalnya yang tidak pernah sakit tidak terlepas dari agenda mabuknya setiap hari. Karena baginya, Batavia adalah “kota kematian” dan sumber penyakit, sehingga butuh injeksi alkohol yang cukup untuk menjaga resistansi tubuh. Mabuk menjadi bentuk gaya hidup baru, yang lambat laun terinternalisasi di kota-kota utama Nusantara yang jauh dari perburuhan kebun kolonial. Kala pekebun dan pekerja kasar di sebagian sudut Jawa dan luar jawa bergerak dalam kepedihan okupasi, dan di sudut Timur yang juga masih harus ‘berdansa’ pasca-asimilasi, Batavia mulai dikonstruksikan sebagai tempat persinggahan gaya Eropa, yang terus terdistribusi sampai kawasan Buitenzorg dan sekitarnya. Selanjutnya->

Le Fantôme de la Liberté (1974)

le fantome de la libertŽ

Luis Buñuel benar-benar cerdas ketika meyisipkan adegan jamuan ‘makan’ sang professor di atas toilet duduk. Satir dan kritik sosial yang sangat populer dan mudah dicerna, tentang etika dan wajah polutan dalam pandangan sang surealis. Terlalu absurd memang jika membahas runtutan sinematik dalam film ini yang berlapis dan acak. Konsistensi avant-garde dan usia 74 tahun Buñuel ketika membuat film ini patut diapresiasi secara lebih ketimbang sekedar sinematik dan debat pemaknaan simbol. Satu hal yang pasti, Buñuel kembali mengajarkan psikoanalisis dan asosiasi bebas Freud secara penuh gaya dan (mungkin sebenarnya) sangat serius.

Ada dua bagian dalam film ini yang sangat menonjol. Pertama adalah bagian awal film, film ini dimulai dengan proyeksi masa lalu. Tentang refleksi lukisan The Third of May 1808, dan para tentara urakan di sekitar monumen Doña Elvira. Lalu maju ke masa kini, dengan seorang pengasuh anak yang sedang membaca kisah penodaan Doña Elvira tersebut. Pengasuh anak yang selanjutnya dipecat Selanjutnya->

Suffer (1988): Musik Dedikasi Untuk Kontra-Hegemoni

29465_bad-religion-suffer

Suffer merupakan kombinasi paling sempurna antara gairah muda dan skeptisme ala martir pintar Greg Graffin. Album ini seolah menggebrak tahun 1988 dengan tesis yang menyatakan punk rock harus dipahami dengan sedikit bantuan thesaurus. Konsistensi ketukan cepat plus riffing gitar yang khas menjadikan 15 lagu dalam album ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan satu album sebelumnya. Perspektif politik dan keagungan perlawanan album Suffer tidak hanya menjadikan album ini tambah menyenangkan untuk didengarkan, tetapi juga telah menjadikan Bad Religion sebagai pembangkang yang jenius. Kritik dalam trek pertama tidak dapat dipahami sedangkal sikap persona non-grata, tetapi lebih jauh sebagai bagian agitatif yang perlu dipahami sebagai upaya pemberontakan terkecil.

Eradicate but vindicate as progress creeps alongpuritan work ethic maintains its subconscious edge – as old glory maintains your consciousness”

You Are (The Government)

Kalimat tersebut sedikit mengingatkan saya dengan Gramsci, dan mungkin memang akan relevan jika ditarik kesimpulan atas apa yang ingin disampaikannya pada nomor pembuka. Konsepsi hegemoni ala Gramsci menyebutkan bahwa kekuasaan

Selanjutnya->