Tagged: relativitas

APAKAH BAIK MEMAKSAKAN KEBAIKAN?

Definisi baik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) membentang pada definisi berikut: teratur; tidak jahat; selayaknya; sepatutnya; berbudi baik. Semua makna kata tersebut merujuk pada adjektiva positif, namun, apakah benar semua bentuk baik itu positif? Sehingga diperkenankan bagi semua orang untuk memaksakan kebaikannya? Kebaikan adalah sebuah psuedo kompleks, yang bersifat partikular dan jauh dari makna universal. Oleh karena itu, baik harus melekat dalam ruang partikularisme (x) itu sendiri, yang dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk abstraksi. Ruang partikular tersebut juga adalah sebuah arena reproduksi internal, yang berkontribusi terhadap konstruksi “normalitas” (atau apa yang “baik” dan “buruk”) bagi subjek dalam ruang. Ironinya, tataran “normalitas” tersebut adalah sebuah hal yang disfungsional, karena kembali lagi, tidak terdapat kebenaran yang mutlak dalam kebenaran ala ruang partikular. Kala “normalitas” tersebut dimanifestasikan dalam realitas, maka yang sebetulnya sedang dimanifestasikan adalah sebuah bentuk disfungsionalitas. Disfungsionalitas yang juga bermakna imanen, karena terhambatnya nalar dalam pandangan yang paralaks, dan bergerak sentrifugal menuju pencapaian makna parsial. Selanjutnya->

Advertisements

EKSISTENSI ARTIFISIAL

Abad ke-21 dengan kepesatan jaringan telekomunikasinya telah menjadi wadah baru bagi mereka yang senang dengan makna eksistensi. Namun jelas bukan makna eksistensi yang sama seperti dijelaskan Sartre dalam Being and Nothingness, ataupun yang dijelaskannya melalui pendefinisian diri ala La Nausée. Eksistensi jauh tenggelam dalam ruang paradoksal, kehadiran “ruang publik” yang diharapkan Habermas menjadi pengurai makna eksistensi diri yang terbatas, justru nyatanya semakin mempersempit realitas. Realitas yang semakin terhimpit oleh kesadaran semu akan makna keindahan Nike, Levis dan iPhone 6. Atau tawaran menarik ala monoloyalitas rasa KFC, McD dan mungkin Pizza Hut. Kita semua saling berusaha menegaskan diri menjadi bagian modernitas, menjadi masyarakat konsumsi yang tereduksi oleh aksis-aksis globalsasi, neoliberalisme ekonomi, serta barisan masyarakat tirani. Konsumsi seolah menjadi kultus yang terabaikan oleh kognisi, menjadi bagian eksistensi yang tak luput dari peran apa yang kita sebut sebagai “sosial media”.

Sosial media menawarkan pesona baru melalui wajah hiper-realitas, sebuah pesona yang secara konkret tidak pernah ada dalam diri “realitas” sebagai das ding an sich. Melalui pesonanya kita bersapa setiap pagi, bersimpati di setiap ironi, dan tersenyum dalam setiap lensa yang menyoroti. Selanjutnya->