Tagged: realisme

Knut Hamsun: Lapar

32585

“…aku menangis sehingga tulang itu menjadi basah dan kotor karena air mata, muntah, memaki-maki, dan mulai menggigit lagi, menangis meraung-raung, dan muntah sekali lagi. Dan dengan suara keras dan jelas kusumpahi semua kuasa dunia agar dibakar dalam api jahanam…”

Lapar merupakan salah karya Hamsun yang mampu membawa aroma realis skandinavia bercampur dengan insting nihilis yang sangat khas. Penuh dengan dinamika individualitas, namun berkorespondensi langsung dengan relasi kekuasaan dan kemiskinan masif di Kristiania, atau Kota Oslo pada saat ini. Sebagai gambaran, Kristiania adalah kawasan periphery yang bergantung pada penetrasi kapital para pemodal Eropa. Konsekuensi modernitas, seperti yang disebutkan Arturo Escobar, akan selalu berimplikasi terhadap aspek ketergantungan dan keterbelakangan suatu wilayah. Terhitung dari rentang waktu tahun 1850 – 1900, penduduk Kristiania meningkat drastis dari 40,000 jiwa menjadi 200,000 jiwa. Angka tersebut tentunya mengindikasikan suatu persaingan, penyisihan, dan peningkatan secara drastis para pemburu pekerjaan, pemburu rente, dan tentu saja pengangguran yang kelaparan.

Lapar menggambarkan realitas sosial dalam sudut pandang individualitas yang kasar namun apik dalam perspektif orisinalitas moral. “Aku” mencoba menjadi diri sendiri yang murni, entitas penuh yang digdaya walau perlahan menuju kematian. “Aku” coba digambarkan secara ideal, dan dengan sedikit gaya Nietzche, menolak pengampunan dan belas kasih, karena ia adalah refleksi dominasi moral, dan ‘terdominasi’ moral adalah berarti meletakan diri sebagai slave morality, bagian dari manusia yang gagal dan terdegradasi.

Buku ini terus mengajak kita melalui subjek “Aku” untuk menyelami isu kemiskinan yang berbatasan langsung dengan hasrat-hasrat terpendam dalam diri. Kisah ini juga membuat kita tidak perlu mengetahui siapa yang menjadi sudut pandang “Aku”, namun fokus mempertanyakan “mengapa” dalam sudut pandang “Aku”. Serta, memahami bahwa kemiskinan tidak sebatas ditunjukkan oleh kepemilikan dan keberlimpahan, melainkan juga ketika kita menginternalisasi arus konformitas dan mendedahkan diri dihadapan hinaan orang lain. (16/12/2015)

Advertisements

Mo Yan: Di Bawah Bendera Merah

9780857421609

“…Aku menyusun patung-patung Ketua Mao yang disimpan di gudang itu di ambang pintu dan dekat tempat tidurku untuk menjadi semacam penjaga…”

Ketertarikan saya pada kepemimpinan-sekaligus kerapuhan-Mao jelas bertambah setelah membaca autobiografi singkat ini. Banyak hal yang mungkin disajikan dengan manis dalam buku ini, seperti bagaimana hubungan Mo Yan dengan Truk Gaz 51, serta teman-teman kecilnya, yang ternyata berkaitan erat dengan dinamika hidup dan pemikiran Mo Yan saat ini.

Tapi ekspektasi terlalu tinggi memang kurang baik, dan ini yang mungkin dialami beberapa pembaca yang berharap banyak dengan kata “merah” di judul buku. Autobiografi ini cenderung berkutat pada ruang romantisme Mo Yan, kita digiring pada kronik cinta fluktuatif yang meliputi emosi terhadap manusia dan juga beragam benda. Kita mungkin tidak dapat gambaran mengenai Revolusi Kebudayaan atau beragam peradaban komune dalam pandangan seorang Mo Yan, tetapi kita bisa tahu secara singkat ternyata Mo Yan memiliki kisah hidup yang ternyata sulit dan panjang di bawah masa kepemimpinan komunisme Cina.

Wajah perubahan sosial Cina yang digambarkan Mo Yan dengan merujuk pada “pangsit daging babi berlemak” juga sebetulnya memiliki makna yang luas, dan agaknya membuat kita mempertanyakan kapitalisme semu dan gemerlap Tiongkok pada abad ke-21 ini. Atas nama realitas, pangsit mana yang sebetulnya lebih enak? (12/07/2015)