Tagged: pasca-modern

EKSISTENSI ARTIFISIAL

Abad ke-21 dengan kepesatan jaringan telekomunikasinya telah menjadi wadah baru bagi mereka yang senang dengan makna eksistensi. Namun jelas bukan makna eksistensi yang sama seperti dijelaskan Sartre dalam Being and Nothingness, ataupun yang dijelaskannya melalui pendefinisian diri ala La Nausée. Eksistensi jauh tenggelam dalam ruang paradoksal, kehadiran “ruang publik” yang diharapkan Habermas menjadi pengurai makna eksistensi diri yang terbatas, justru nyatanya semakin mempersempit realitas. Realitas yang semakin terhimpit oleh kesadaran semu akan makna keindahan Nike, Levis dan iPhone 6. Atau tawaran menarik ala monoloyalitas rasa KFC, McD dan mungkin Pizza Hut. Kita semua saling berusaha menegaskan diri menjadi bagian modernitas, menjadi masyarakat konsumsi yang tereduksi oleh aksis-aksis globalsasi, neoliberalisme ekonomi, serta barisan masyarakat tirani. Konsumsi seolah menjadi kultus yang terabaikan oleh kognisi, menjadi bagian eksistensi yang tak luput dari peran apa yang kita sebut sebagai “sosial media”.

Sosial media menawarkan pesona baru melalui wajah hiper-realitas, sebuah pesona yang secara konkret tidak pernah ada dalam diri “realitas” sebagai das ding an sich. Melalui pesonanya kita bersapa setiap pagi, bersimpati di setiap ironi, dan tersenyum dalam setiap lensa yang menyoroti. Selanjutnya->