Tagged: gender

Carey dan Hauben: Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX

perempuan-perempuan-perkasa-di-jawa-abad-xviii-xix-686x1024

Buku ini tidak hanya memperlihatkan sosok-sosok besar seperti Ratu Kencana Wulan ataupun Nyai Ageng Serang. Tulisan singkat dalam buku ini menawarkan latar belakang dan atmosfir yang kelam, bernas dan berani menjadi sebuah kesatuan alinea yang mudah dicerna. Suatu upaya penguatan terhadap isu gender yang kerap mendapat porsi sedikit dalam ruang sejarah, baik dalam tulisan antropologis ala Geertz maupun kesejarahan ala Ricklefs.

Buku ini menawarkan data empiris tentang ruang kuasa para perempuan Jawa di pra-abad ke 20. Sebuah fakta yang membalik realitas kontemporer perempuan Jawa yang penuh dengan “kelembutan”. Tulisan ini juga membawa tesis bahwa, perempuan Jawa bukanlah sebatas perempuan domestik. Patriarki pada masa pra-kolonial memang telah terkonstruksi, tetapi pada masa itu pula para perempuan Jawa memiliki bargaining power untuk bertindak dan bergerak sama dengan para laki-laki, baik di ruang produksi dan bahkan militer.

Namun, kondisi tersebut pada akhirnya benar-benar berubah pasca masuknya kolonialisme di Nusantara. Para aparatur dan tentara kolonial hadir dengan aroma maskulinitas yang mendominasi. Implikasinya, perubahan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki, serta terciptanya demarkasi antara posisi superordinat dan juga subordinat. Pada akhirnya, buku ini merupakan uraian singkat namun pekat yang mampu mengubah cara pandang kita terhadap perempuan Jawa. Disamping itu, buku ini juga menawarkan cara pandang baru tentang bagaimana kolonialisme berhasil menaklukkan sendi-sendi penopang Kerajaan di Jawa.(28/07/16)