Tagged: fungsionalisme

Émile Durkheim: On Suicide

51xvoaslfnl-_sx314_bo1204203200_

“At each moment of its history, therefore, each society has a definite aptitude for suicide…”

Durkheim memulai tulisannya dengan deretan argumen penolakan terhadap tesis deterministik psikologis para ilmuan abad ke-19 yang menyatakan bunuh diri sebagai gejala “penyimpangan” individu. Ia dengan tegas menyatakan bahwa persoalan bunuh diri adalah persoalan interaksi sosial, persoalan kelembagaan dan berbagai dinamika di dalamnya. Ia juga menawarkan gagasan sosiologis “ilmiah” yang cenderung diabaikan, dan meyakinkan bahwa ilmu pengetahuan sosial dapat bekerja dengan baik dalam ruang positivistik. Membaca tulisan Durkheim dalam Suicide, tak ayal seperti membaca seorang resep dari patolog sosial yang banyak terpengaruh dengan gagasan politik Machiavelli. Ia menggiring fakta secara provokatif, namun apik, dan membentuk konsep bunuh diri menjadi sangat mudah untuk dipahami.

Dalam Suicide, kita dibawa pada gaya pemahaman ala strukturalisme yang luas dan evokatif. Ia berkali-kali menyebutkan tentang fakta sosial (social facts) sebagai kata kunci, atau sebuah substansi ekternal yang secara dialektis terinternalisasi dalam tubuh-tubuh individu dalam masyarakat, yang pada akhirnya juga membentuk pola dan kehidupan individu (dan masyarakat) itu sendiri. Itulah mengapa pada Hal. 278 dengan tegas ia menyatakan “it is not true that society is made up only of individuals; it also includes material things, which play an essential role in the common life“. “Material” tersebutlah yang tersimbolisasi, menjadi sarana interaksi dan dikonstruksikan bersama oleh masyarakat menjadi “substansi eksternal-substansi eksternal” yang dinamis dan hidup dalam ruang dan waktu tertenu.

Itulah mengapa menjadi mengasyikkan ketika ia melakukan komparasi kohesivitas sosial dengan intensitas bunuh diri di beberapa ruang yang berbeda, atau secara spesifik di “ruang budaya” atau “ruang agama” yang berbeda di Eropa pada masanya. Pada akhirnya, buku ini adalah sebuah pengantar yang sangat nyaman dan cukup mudah dicerna oleh siapapun yang bertanya metode kerja sosiologi dalam argumen positivistik. Walaupun penuh dengan kritik, buku ini adalah karya paling monumental yang pernah diciptakan dalam tradisi fungsional – positivisme ilmu sosial. (04/06/16)

Advertisements