Tagged: fiksi

Knut Hamsun: Lapar

32585

“…aku menangis sehingga tulang itu menjadi basah dan kotor karena air mata, muntah, memaki-maki, dan mulai menggigit lagi, menangis meraung-raung, dan muntah sekali lagi. Dan dengan suara keras dan jelas kusumpahi semua kuasa dunia agar dibakar dalam api jahanam…”

Lapar merupakan salah karya Hamsun yang mampu membawa aroma realis skandinavia bercampur dengan insting nihilis yang sangat khas. Penuh dengan dinamika individualitas, namun berkorespondensi langsung dengan relasi kekuasaan dan kemiskinan masif di Kristiania, atau Kota Oslo pada saat ini. Sebagai gambaran, Kristiania adalah kawasan periphery yang bergantung pada penetrasi kapital para pemodal Eropa. Konsekuensi modernitas, seperti yang disebutkan Arturo Escobar, akan selalu berimplikasi terhadap aspek ketergantungan dan keterbelakangan suatu wilayah. Terhitung dari rentang waktu tahun 1850 – 1900, penduduk Kristiania meningkat drastis dari 40,000 jiwa menjadi 200,000 jiwa. Angka tersebut tentunya mengindikasikan suatu persaingan, penyisihan, dan peningkatan secara drastis para pemburu pekerjaan, pemburu rente, dan tentu saja pengangguran yang kelaparan.

Lapar menggambarkan realitas sosial dalam sudut pandang individualitas yang kasar namun apik dalam perspektif orisinalitas moral. “Aku” mencoba menjadi diri sendiri yang murni, entitas penuh yang digdaya walau perlahan menuju kematian. “Aku” coba digambarkan secara ideal, dan dengan sedikit gaya Nietzche, menolak pengampunan dan belas kasih, karena ia adalah refleksi dominasi moral, dan ‘terdominasi’ moral adalah berarti meletakan diri sebagai slave morality, bagian dari manusia yang gagal dan terdegradasi.

Buku ini terus mengajak kita melalui subjek “Aku” untuk menyelami isu kemiskinan yang berbatasan langsung dengan hasrat-hasrat terpendam dalam diri. Kisah ini juga membuat kita tidak perlu mengetahui siapa yang menjadi sudut pandang “Aku”, namun fokus mempertanyakan “mengapa” dalam sudut pandang “Aku”. Serta, memahami bahwa kemiskinan tidak sebatas ditunjukkan oleh kepemilikan dan keberlimpahan, melainkan juga ketika kita menginternalisasi arus konformitas dan mendedahkan diri dihadapan hinaan orang lain. (16/12/2015)

Advertisements

Agatha Christie: Postern of Fate

agatha-christie-postern-of-fate-fontana-1976

“Persoalannya ialah, tak seorang pun yang benar-benar tahu. Kita merasa kita tahu segalanya karena kita punya pengalaman… Kita semua merasa tahu semua itu. Tapi benarkah?”

Buku Agatha Christie yang pertama kali saya baca, yang ternyata menjadi kisah penutup perjalanan Tuppence dan Tommy. Buku yang sangat nyaman dibaca pada alur-alur pertamanya, saya yang sebelumnya belum pernah membaca kisah Tuppence dan Tommy pun mendapat cukup gambaran tentang latar belakang mereka berdua.

Dari halaman pertama hingga pertengahan, saya rasa kita semua mendapat ekspektasi yang luar biasa dengan dinamika dan kompleksitas politik masa lalu yang eksplisit mengalir melalui berbagai subjek di dalam cerita. Namun agaknya hal tersebut justru agak minim eksplorasi pada bagian akhir, dan keterkaitan antar karakter pada akhirnya di konklusikan sebatas hubungan yang tampak secara non-emosional.

Ketika kembali melihat sampul buku, saya kira sosok “kuda” dalam kisah ini sangat simbolik. Dan saya cenderung mengaitkan pelarian masa tua Tuppence dan Tommy dalam kisah si Kanthaka, yang berhasil membawa Gautama menuju Hutan Uruvela, dan mengakhiri hidupnya yang berlandaskan hasrat duniawi. Demikian dengan Tuppence dan Tommy, pelariannya yang mendapat titik terang dari relung sejarah milik sang kuda kayu, Mathilde, pada akhirnya mampu membawa mereka melewati titik nadir duniawi dan sang gerbang nasib. Inilah akhir kisah mereka berdua, yang berbalut dengan misteri dan pelepasan diri sebagai si pasangan detektif. (03/12/2014)