Tagged: buku

Carey dan Hauben: Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX

perempuan-perempuan-perkasa-di-jawa-abad-xviii-xix-686x1024

Buku ini tidak hanya memperlihatkan sosok-sosok besar seperti Ratu Kencana Wulan ataupun Nyai Ageng Serang. Tulisan singkat dalam buku ini menawarkan latar belakang dan atmosfir yang kelam, bernas dan berani menjadi sebuah kesatuan alinea yang mudah dicerna. Suatu upaya penguatan terhadap isu gender yang kerap mendapat porsi sedikit dalam ruang sejarah, baik dalam tulisan antropologis ala Geertz maupun kesejarahan ala Ricklefs.

Buku ini menawarkan data empiris tentang ruang kuasa para perempuan Jawa di pra-abad ke 20. Sebuah fakta yang membalik realitas kontemporer perempuan Jawa yang penuh dengan “kelembutan”. Tulisan ini juga membawa tesis bahwa, perempuan Jawa bukanlah sebatas perempuan domestik. Patriarki pada masa pra-kolonial memang telah terkonstruksi, tetapi pada masa itu pula para perempuan Jawa memiliki bargaining power untuk bertindak dan bergerak sama dengan para laki-laki, baik di ruang produksi dan bahkan militer.

Namun, kondisi tersebut pada akhirnya benar-benar berubah pasca masuknya kolonialisme di Nusantara. Para aparatur dan tentara kolonial hadir dengan aroma maskulinitas yang mendominasi. Implikasinya, perubahan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki, serta terciptanya demarkasi antara posisi superordinat dan juga subordinat. Pada akhirnya, buku ini merupakan uraian singkat namun pekat yang mampu mengubah cara pandang kita terhadap perempuan Jawa. Disamping itu, buku ini juga menawarkan cara pandang baru tentang bagaimana kolonialisme berhasil menaklukkan sendi-sendi penopang Kerajaan di Jawa.(28/07/16)

Advertisements

Émile Durkheim: On Suicide

51xvoaslfnl-_sx314_bo1204203200_

“At each moment of its history, therefore, each society has a definite aptitude for suicide…”

Durkheim memulai tulisannya dengan deretan argumen penolakan terhadap tesis deterministik psikologis para ilmuan abad ke-19 yang menyatakan bunuh diri sebagai gejala “penyimpangan” individu. Ia dengan tegas menyatakan bahwa persoalan bunuh diri adalah persoalan interaksi sosial, persoalan kelembagaan dan berbagai dinamika di dalamnya. Ia juga menawarkan gagasan sosiologis “ilmiah” yang cenderung diabaikan, dan meyakinkan bahwa ilmu pengetahuan sosial dapat bekerja dengan baik dalam ruang positivistik. Membaca tulisan Durkheim dalam Suicide, tak ayal seperti membaca seorang resep dari patolog sosial yang banyak terpengaruh dengan gagasan politik Machiavelli. Ia menggiring fakta secara provokatif, namun apik, dan membentuk konsep bunuh diri menjadi sangat mudah untuk dipahami.

Dalam Suicide, kita dibawa pada gaya pemahaman ala strukturalisme yang luas dan evokatif. Ia berkali-kali menyebutkan tentang fakta sosial (social facts) sebagai kata kunci, atau sebuah substansi ekternal yang secara dialektis terinternalisasi dalam tubuh-tubuh individu dalam masyarakat, yang pada akhirnya juga membentuk pola dan kehidupan individu (dan masyarakat) itu sendiri. Itulah mengapa pada Hal. 278 dengan tegas ia menyatakan “it is not true that society is made up only of individuals; it also includes material things, which play an essential role in the common life“. “Material” tersebutlah yang tersimbolisasi, menjadi sarana interaksi dan dikonstruksikan bersama oleh masyarakat menjadi “substansi eksternal-substansi eksternal” yang dinamis dan hidup dalam ruang dan waktu tertenu.

Itulah mengapa menjadi mengasyikkan ketika ia melakukan komparasi kohesivitas sosial dengan intensitas bunuh diri di beberapa ruang yang berbeda, atau secara spesifik di “ruang budaya” atau “ruang agama” yang berbeda di Eropa pada masanya. Pada akhirnya, buku ini adalah sebuah pengantar yang sangat nyaman dan cukup mudah dicerna oleh siapapun yang bertanya metode kerja sosiologi dalam argumen positivistik. Walaupun penuh dengan kritik, buku ini adalah karya paling monumental yang pernah diciptakan dalam tradisi fungsional – positivisme ilmu sosial. (04/06/16)

Knut Hamsun: Lapar

32585

“…aku menangis sehingga tulang itu menjadi basah dan kotor karena air mata, muntah, memaki-maki, dan mulai menggigit lagi, menangis meraung-raung, dan muntah sekali lagi. Dan dengan suara keras dan jelas kusumpahi semua kuasa dunia agar dibakar dalam api jahanam…”

Lapar merupakan salah karya Hamsun yang mampu membawa aroma realis skandinavia bercampur dengan insting nihilis yang sangat khas. Penuh dengan dinamika individualitas, namun berkorespondensi langsung dengan relasi kekuasaan dan kemiskinan masif di Kristiania, atau Kota Oslo pada saat ini. Sebagai gambaran, Kristiania adalah kawasan periphery yang bergantung pada penetrasi kapital para pemodal Eropa. Konsekuensi modernitas, seperti yang disebutkan Arturo Escobar, akan selalu berimplikasi terhadap aspek ketergantungan dan keterbelakangan suatu wilayah. Terhitung dari rentang waktu tahun 1850 – 1900, penduduk Kristiania meningkat drastis dari 40,000 jiwa menjadi 200,000 jiwa. Angka tersebut tentunya mengindikasikan suatu persaingan, penyisihan, dan peningkatan secara drastis para pemburu pekerjaan, pemburu rente, dan tentu saja pengangguran yang kelaparan.

Lapar menggambarkan realitas sosial dalam sudut pandang individualitas yang kasar namun apik dalam perspektif orisinalitas moral. “Aku” mencoba menjadi diri sendiri yang murni, entitas penuh yang digdaya walau perlahan menuju kematian. “Aku” coba digambarkan secara ideal, dan dengan sedikit gaya Nietzche, menolak pengampunan dan belas kasih, karena ia adalah refleksi dominasi moral, dan ‘terdominasi’ moral adalah berarti meletakan diri sebagai slave morality, bagian dari manusia yang gagal dan terdegradasi.

Buku ini terus mengajak kita melalui subjek “Aku” untuk menyelami isu kemiskinan yang berbatasan langsung dengan hasrat-hasrat terpendam dalam diri. Kisah ini juga membuat kita tidak perlu mengetahui siapa yang menjadi sudut pandang “Aku”, namun fokus mempertanyakan “mengapa” dalam sudut pandang “Aku”. Serta, memahami bahwa kemiskinan tidak sebatas ditunjukkan oleh kepemilikan dan keberlimpahan, melainkan juga ketika kita menginternalisasi arus konformitas dan mendedahkan diri dihadapan hinaan orang lain. (16/12/2015)

Mo Yan: Di Bawah Bendera Merah

9780857421609

“…Aku menyusun patung-patung Ketua Mao yang disimpan di gudang itu di ambang pintu dan dekat tempat tidurku untuk menjadi semacam penjaga…”

Ketertarikan saya pada kepemimpinan-sekaligus kerapuhan-Mao jelas bertambah setelah membaca autobiografi singkat ini. Banyak hal yang mungkin disajikan dengan manis dalam buku ini, seperti bagaimana hubungan Mo Yan dengan Truk Gaz 51, serta teman-teman kecilnya, yang ternyata berkaitan erat dengan dinamika hidup dan pemikiran Mo Yan saat ini.

Tapi ekspektasi terlalu tinggi memang kurang baik, dan ini yang mungkin dialami beberapa pembaca yang berharap banyak dengan kata “merah” di judul buku. Autobiografi ini cenderung berkutat pada ruang romantisme Mo Yan, kita digiring pada kronik cinta fluktuatif yang meliputi emosi terhadap manusia dan juga beragam benda. Kita mungkin tidak dapat gambaran mengenai Revolusi Kebudayaan atau beragam peradaban komune dalam pandangan seorang Mo Yan, tetapi kita bisa tahu secara singkat ternyata Mo Yan memiliki kisah hidup yang ternyata sulit dan panjang di bawah masa kepemimpinan komunisme Cina.

Wajah perubahan sosial Cina yang digambarkan Mo Yan dengan merujuk pada “pangsit daging babi berlemak” juga sebetulnya memiliki makna yang luas, dan agaknya membuat kita mempertanyakan kapitalisme semu dan gemerlap Tiongkok pada abad ke-21 ini. Atas nama realitas, pangsit mana yang sebetulnya lebih enak? (12/07/2015)

 

Richard Robison: Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia

soeharto_dan_bangkitnya_kapitalisme_indonesia

Masa 1949-1965 dipandang sebagai kegagalan Indonesia dalam membangun ekonomi kapitalis nasional mereka sendiri, baik melalui kelas kapitalis domestik maupun modal milik negara. Langkah panling fundamental yang diambil rezim Orde Baru sesudah 1965 ialah sederhana saja: membuat kondisi agar modal internasional masuk kembali” [Hal. 77]

Ketika membaca buku ini, sebetulnya saya tidak merasakan suatu sensasi yang berbeda jauh ketika halnya saya membaca tulisan Yoshihara Kuno atau (yang lebih kontemporer) Hadiz & Dhakidae dengan Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia-nya. Sensasi yang sama dalam saya mendefinisikan kata “negara” dan “mafia“, namun, buku klasik dan berkelimpahan data empiris ini jelas sangat cukup dalam membantah dalil pro-poor ala pembangunanisme. Buku ini sangat lugas dalam mengangkat persoalan rezim Soeharto dalam perspektif politik-ekonomi yang holistik, historis dan kritikal.

Dalam pandangan saya, analisis historis dengan tata bahasa yang semi-populernya lah yang menjadi kunci mengapa buku ini nyaman dan penting untuk dibaca. Selain itu, analisis di awal terkait dengan kegagalan kapitalisme lokal (dan kaitannya pengejaran hasrat priyai) menjadikan pembaca pemula untuk berangkat dan memahami kapitalisme Orde Baru dari titik yang sama. Untuk mereka yang memahami masa kepemimpinan Soekarno dan Soeharto sebagai dua titik oposisi biner, maka buku ini pun menurut hemat saya akan sedikit menurunkan tensi tersebut, dan menjadikan pemahaman kita lebih moderat dan berujung pada kesepakatan klausul “negara adalah alat kapitalisme”.

Pada akhirnya, buku ini mampu menyajikan data yang implikatif dan relevan dengan kondisi sosial-ekonomi Indonesia pada saat ini. Ditambah, ada juga pembahasan kebijakan serta kontribusi (serta aliran bisnis) para kapital lokal dan asing pada masa kepemimpinan Soeharto. Sangat komperhensif dan menarik untuk ditelusuri. (10/02/2015)

Agatha Christie: Postern of Fate

agatha-christie-postern-of-fate-fontana-1976

“Persoalannya ialah, tak seorang pun yang benar-benar tahu. Kita merasa kita tahu segalanya karena kita punya pengalaman… Kita semua merasa tahu semua itu. Tapi benarkah?”

Buku Agatha Christie yang pertama kali saya baca, yang ternyata menjadi kisah penutup perjalanan Tuppence dan Tommy. Buku yang sangat nyaman dibaca pada alur-alur pertamanya, saya yang sebelumnya belum pernah membaca kisah Tuppence dan Tommy pun mendapat cukup gambaran tentang latar belakang mereka berdua.

Dari halaman pertama hingga pertengahan, saya rasa kita semua mendapat ekspektasi yang luar biasa dengan dinamika dan kompleksitas politik masa lalu yang eksplisit mengalir melalui berbagai subjek di dalam cerita. Namun agaknya hal tersebut justru agak minim eksplorasi pada bagian akhir, dan keterkaitan antar karakter pada akhirnya di konklusikan sebatas hubungan yang tampak secara non-emosional.

Ketika kembali melihat sampul buku, saya kira sosok “kuda” dalam kisah ini sangat simbolik. Dan saya cenderung mengaitkan pelarian masa tua Tuppence dan Tommy dalam kisah si Kanthaka, yang berhasil membawa Gautama menuju Hutan Uruvela, dan mengakhiri hidupnya yang berlandaskan hasrat duniawi. Demikian dengan Tuppence dan Tommy, pelariannya yang mendapat titik terang dari relung sejarah milik sang kuda kayu, Mathilde, pada akhirnya mampu membawa mereka melewati titik nadir duniawi dan sang gerbang nasib. Inilah akhir kisah mereka berdua, yang berbalut dengan misteri dan pelepasan diri sebagai si pasangan detektif. (03/12/2014)