Tagged: agama

MENGAPA DENTUMAN BESAR “MEMPERSEMPIT” TUHAN?

Sosiolog klasik, Comte, selalu menyatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat terjadi secara unilinier. Teori yang terlalu melekat dalam paradigma Newtonian memang kerap kali memiliki validitas rendah dalam ilmu sosial. Namun, ada satu nilai yang dapat dipahami dari progres unilier dari teori Comte, atau mungkin seorang evolusionis seperti Spencer: masyarakat bergerak menuju pemahaman terhadap realitas secara lebih kompleks. Atau, dalam inti pemahaman Hukum Tiga Tahap Comte, progres masyarakat akan berakhir satu titik, yakni Masyarakat Positivistik, masyarakat yang mempercayai realitas empiris tanpa intervensi “ruh” maupun dewa-dewi metafisik. Dalam ranah ilmu sosial, pernyataan Comte (maupun Spencer, Tönnies hingga Ibn Khaldun) justru kurang relevan, ia justru akan menghapuskan dinamika struktur kuasa hingga mekanisme otonom agen, dan tentu, juga karena “tidak pernah titik akhir” dari masyarakat (walaupun saya selalu menyukai analoginya). Selanjutnya->

Advertisements

MENGAPA MARX MERAMAIKAN AGAMA?

Mendefinisikan pemikiran Marx dalam konteks agama berarti bermakna tunggal, yakni membuka perdebatan. Namun, hal ini tentunya juga dikarenakan pemikiran Marx yang memang jauh dari makna monolitas. Seperti halnya pendefinisian retakan epistemologis ala Althusser, sebagian kaum Marxis selanjutnya membentuk faksi dikotomis yang seolah mengedepankan orisinalitas Marx: Muda – Humastik vis-à-vis Tua – Ekonomistik. Marx muda kerap dianggap minor, dan dirasa sebatas proyek filsafat idealistik Marx, dan parsial dalam memahami realitas komperhensif penghisapan kapitalisme kontemporer.

Konsep alienasi dan kesadaran manusia menjadi isu konsentrasi Marx muda, konsep ini kerap diasosiasikan dengan bagaimana abstarksi ide menelanjangi manusia menuju titik terendah, setelah sebelumnya dilecehkan melalui pelucutan moda produksi. Intitusi suprastruktur yang menjadi kritik utama Marx juga menunjukkan bagaimana Marx memposisikan manusia sebagai subjek eksistensial, bukan sekedar objek mekanis yang berbondong tanpa gagasan, karena ada aspek suprastruktur yang juga harus direkonstruksi menuju keselarasan dalam kesetaraan kelas. Selanjutnya->