Carey dan Hauben: Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX

perempuan-perempuan-perkasa-di-jawa-abad-xviii-xix-686x1024

Buku ini tidak hanya memperlihatkan sosok-sosok besar seperti Ratu Kencana Wulan ataupun Nyai Ageng Serang. Tulisan singkat dalam buku ini menawarkan latar belakang dan atmosfir yang kelam, bernas dan berani menjadi sebuah kesatuan alinea yang mudah dicerna. Suatu upaya penguatan terhadap isu gender yang kerap mendapat porsi sedikit dalam ruang sejarah, baik dalam tulisan antropologis ala Geertz maupun kesejarahan ala Ricklefs.

Buku ini menawarkan data empiris tentang ruang kuasa para perempuan Jawa di pra-abad ke 20. Sebuah fakta yang membalik realitas kontemporer perempuan Jawa yang penuh dengan “kelembutan”. Tulisan ini juga membawa tesis bahwa, perempuan Jawa bukanlah sebatas perempuan domestik. Patriarki pada masa pra-kolonial memang telah terkonstruksi, tetapi pada masa itu pula para perempuan Jawa memiliki bargaining power untuk bertindak dan bergerak sama dengan para laki-laki, baik di ruang produksi dan bahkan militer.

Namun, kondisi tersebut pada akhirnya benar-benar berubah pasca masuknya kolonialisme di Nusantara. Para aparatur dan tentara kolonial hadir dengan aroma maskulinitas yang mendominasi. Implikasinya, perubahan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki, serta terciptanya demarkasi antara posisi superordinat dan juga subordinat. Pada akhirnya, buku ini merupakan uraian singkat namun pekat yang mampu mengubah cara pandang kita terhadap perempuan Jawa. Disamping itu, buku ini juga menawarkan cara pandang baru tentang bagaimana kolonialisme berhasil menaklukkan sendi-sendi penopang Kerajaan di Jawa.(28/07/16)

MENGAPA MARX MERAMAIKAN AGAMA?

Mendefinisikan pemikiran Marx dalam konteks agama berarti bermakna tunggal, yakni membuka perdebatan. Namun, hal ini tentunya juga dikarenakan pemikiran Marx yang memang jauh dari makna monolitas. Seperti halnya pendefinisian retakan epistemologis ala Althusser, sebagian kaum Marxis selanjutnya membentuk faksi dikotomis yang seolah mengedepankan orisinalitas Marx: Muda – Humastik vis-à-vis Tua – Ekonomistik. Marx muda kerap dianggap minor, dan dirasa sebatas proyek filsafat idealistik Marx, dan parsial dalam memahami realitas komperhensif penghisapan kapitalisme kontemporer.

Konsep alienasi dan kesadaran manusia menjadi isu konsentrasi Marx muda, konsep ini kerap diasosiasikan dengan bagaimana abstarksi ide menelanjangi manusia menuju titik terendah, setelah sebelumnya dilecehkan melalui pelucutan moda produksi. Intitusi suprastruktur yang menjadi kritik utama Marx juga menunjukkan bagaimana Marx memposisikan manusia sebagai subjek eksistensial, bukan sekedar objek mekanis yang berbondong tanpa gagasan, karena ada aspek suprastruktur yang juga harus direkonstruksi menuju keselarasan dalam kesetaraan kelas. Selanjutnya->

Émile Durkheim: On Suicide

51xvoaslfnl-_sx314_bo1204203200_

“At each moment of its history, therefore, each society has a definite aptitude for suicide…”

Durkheim memulai tulisannya dengan deretan argumen penolakan terhadap tesis deterministik psikologis para ilmuan abad ke-19 yang menyatakan bunuh diri sebagai gejala “penyimpangan” individu. Ia dengan tegas menyatakan bahwa persoalan bunuh diri adalah persoalan interaksi sosial, persoalan kelembagaan dan berbagai dinamika di dalamnya. Ia juga menawarkan gagasan sosiologis “ilmiah” yang cenderung diabaikan, dan meyakinkan bahwa ilmu pengetahuan sosial dapat bekerja dengan baik dalam ruang positivistik. Membaca tulisan Durkheim dalam Suicide, tak ayal seperti membaca seorang resep dari patolog sosial yang banyak terpengaruh dengan gagasan politik Machiavelli. Ia menggiring fakta secara provokatif, namun apik, dan membentuk konsep bunuh diri menjadi sangat mudah untuk dipahami.

Dalam Suicide, kita dibawa pada gaya pemahaman ala strukturalisme yang luas dan evokatif. Ia berkali-kali menyebutkan tentang fakta sosial (social facts) sebagai kata kunci, atau sebuah substansi ekternal yang secara dialektis terinternalisasi dalam tubuh-tubuh individu dalam masyarakat, yang pada akhirnya juga membentuk pola dan kehidupan individu (dan masyarakat) itu sendiri. Itulah mengapa pada Hal. 278 dengan tegas ia menyatakan “it is not true that society is made up only of individuals; it also includes material things, which play an essential role in the common life“. “Material” tersebutlah yang tersimbolisasi, menjadi sarana interaksi dan dikonstruksikan bersama oleh masyarakat menjadi “substansi eksternal-substansi eksternal” yang dinamis dan hidup dalam ruang dan waktu tertenu.

Itulah mengapa menjadi mengasyikkan ketika ia melakukan komparasi kohesivitas sosial dengan intensitas bunuh diri di beberapa ruang yang berbeda, atau secara spesifik di “ruang budaya” atau “ruang agama” yang berbeda di Eropa pada masanya. Pada akhirnya, buku ini adalah sebuah pengantar yang sangat nyaman dan cukup mudah dicerna oleh siapapun yang bertanya metode kerja sosiologi dalam argumen positivistik. Walaupun penuh dengan kritik, buku ini adalah karya paling monumental yang pernah diciptakan dalam tradisi fungsional – positivisme ilmu sosial. (04/06/16)

EKSISTENSI ARTIFISIAL

Abad ke-21 dengan kepesatan jaringan telekomunikasinya telah menjadi wadah baru bagi mereka yang senang dengan makna eksistensi. Namun jelas bukan makna eksistensi yang sama seperti dijelaskan Sartre dalam Being and Nothingness, ataupun yang dijelaskannya melalui pendefinisian diri ala La Nausée. Eksistensi jauh tenggelam dalam ruang paradoksal, kehadiran “ruang publik” yang diharapkan Habermas menjadi pengurai makna eksistensi diri yang terbatas, justru nyatanya semakin mempersempit realitas. Realitas yang semakin terhimpit oleh kesadaran semu akan makna keindahan Nike, Levis dan iPhone 6. Atau tawaran menarik ala monoloyalitas rasa KFC, McD dan mungkin Pizza Hut. Kita semua saling berusaha menegaskan diri menjadi bagian modernitas, menjadi masyarakat konsumsi yang tereduksi oleh aksis-aksis globalsasi, neoliberalisme ekonomi, serta barisan masyarakat tirani. Konsumsi seolah menjadi kultus yang terabaikan oleh kognisi, menjadi bagian eksistensi yang tak luput dari peran apa yang kita sebut sebagai “sosial media”.

Sosial media menawarkan pesona baru melalui wajah hiper-realitas, sebuah pesona yang secara konkret tidak pernah ada dalam diri “realitas” sebagai das ding an sich. Melalui pesonanya kita bersapa setiap pagi, bersimpati di setiap ironi, dan tersenyum dalam setiap lensa yang menyoroti. Selanjutnya->

Knut Hamsun: Lapar

32585

“…aku menangis sehingga tulang itu menjadi basah dan kotor karena air mata, muntah, memaki-maki, dan mulai menggigit lagi, menangis meraung-raung, dan muntah sekali lagi. Dan dengan suara keras dan jelas kusumpahi semua kuasa dunia agar dibakar dalam api jahanam…”

Lapar merupakan salah karya Hamsun yang mampu membawa aroma realis skandinavia bercampur dengan insting nihilis yang sangat khas. Penuh dengan dinamika individualitas, namun berkorespondensi langsung dengan relasi kekuasaan dan kemiskinan masif di Kristiania, atau Kota Oslo pada saat ini. Sebagai gambaran, Kristiania adalah kawasan periphery yang bergantung pada penetrasi kapital para pemodal Eropa. Konsekuensi modernitas, seperti yang disebutkan Arturo Escobar, akan selalu berimplikasi terhadap aspek ketergantungan dan keterbelakangan suatu wilayah. Terhitung dari rentang waktu tahun 1850 – 1900, penduduk Kristiania meningkat drastis dari 40,000 jiwa menjadi 200,000 jiwa. Angka tersebut tentunya mengindikasikan suatu persaingan, penyisihan, dan peningkatan secara drastis para pemburu pekerjaan, pemburu rente, dan tentu saja pengangguran yang kelaparan.

Lapar menggambarkan realitas sosial dalam sudut pandang individualitas yang kasar namun apik dalam perspektif orisinalitas moral. “Aku” mencoba menjadi diri sendiri yang murni, entitas penuh yang digdaya walau perlahan menuju kematian. “Aku” coba digambarkan secara ideal, dan dengan sedikit gaya Nietzche, menolak pengampunan dan belas kasih, karena ia adalah refleksi dominasi moral, dan ‘terdominasi’ moral adalah berarti meletakan diri sebagai slave morality, bagian dari manusia yang gagal dan terdegradasi.

Buku ini terus mengajak kita melalui subjek “Aku” untuk menyelami isu kemiskinan yang berbatasan langsung dengan hasrat-hasrat terpendam dalam diri. Kisah ini juga membuat kita tidak perlu mengetahui siapa yang menjadi sudut pandang “Aku”, namun fokus mempertanyakan “mengapa” dalam sudut pandang “Aku”. Serta, memahami bahwa kemiskinan tidak sebatas ditunjukkan oleh kepemilikan dan keberlimpahan, melainkan juga ketika kita menginternalisasi arus konformitas dan mendedahkan diri dihadapan hinaan orang lain. (16/12/2015)

Mo Yan: Di Bawah Bendera Merah

9780857421609

“…Aku menyusun patung-patung Ketua Mao yang disimpan di gudang itu di ambang pintu dan dekat tempat tidurku untuk menjadi semacam penjaga…”

Ketertarikan saya pada kepemimpinan-sekaligus kerapuhan-Mao jelas bertambah setelah membaca autobiografi singkat ini. Banyak hal yang mungkin disajikan dengan manis dalam buku ini, seperti bagaimana hubungan Mo Yan dengan Truk Gaz 51, serta teman-teman kecilnya, yang ternyata berkaitan erat dengan dinamika hidup dan pemikiran Mo Yan saat ini.

Tapi ekspektasi terlalu tinggi memang kurang baik, dan ini yang mungkin dialami beberapa pembaca yang berharap banyak dengan kata “merah” di judul buku. Autobiografi ini cenderung berkutat pada ruang romantisme Mo Yan, kita digiring pada kronik cinta fluktuatif yang meliputi emosi terhadap manusia dan juga beragam benda. Kita mungkin tidak dapat gambaran mengenai Revolusi Kebudayaan atau beragam peradaban komune dalam pandangan seorang Mo Yan, tetapi kita bisa tahu secara singkat ternyata Mo Yan memiliki kisah hidup yang ternyata sulit dan panjang di bawah masa kepemimpinan komunisme Cina.

Wajah perubahan sosial Cina yang digambarkan Mo Yan dengan merujuk pada “pangsit daging babi berlemak” juga sebetulnya memiliki makna yang luas, dan agaknya membuat kita mempertanyakan kapitalisme semu dan gemerlap Tiongkok pada abad ke-21 ini. Atas nama realitas, pangsit mana yang sebetulnya lebih enak? (12/07/2015)

 

STRUKTUR SOSIAL DAN APOLOGETIS KEMISKINAN

James Scott dalam Seeing Like a State menjelaskan, bahwa realitas sosial yang pada saat ini tampak adalah “realitas permukaan”, masih ada realitas yang jauh lebih kompleks yang berisi abstraksi rasio hingga kuasa dan kepentingan yang terjalin antar subjek. Realitas yang mungkin dimaksud oleh Scott adalah “realitas struktur”, ia dikonstuksikan oleh berbagai subjek di dalam struktur, namun sekaligus membentuk struktur. Hal tersebut senada dengan penjelasan Durkheim tentang fakta sosial, bahwa pada dasarnya fakta sosial adalah suatu akumulasi nilai dan norma, yang pada akhirnya dapat mengatur masyarakat. Kekuatan struktur sosial untuk “mengatur” tersebutlah yang pada akhirnya dipahami sebagai sebuah arena yang kompleks. Struktur sosial dalam konteks kemiskinan sangat identik dengan jarak (gap) antar subjek atau aktor, yang terbangun dalam relasi yang bersifat vertikal. Struktur sosial vertikal tersebut yang pada akhirnya dapat membuat lokus masyarakat baru yang saling terpisah berdasarkan kepemilikan aset (modal ekonomi) Seperti disebutkan Wertheim, struktur sosial masyarakat Indonesia yang awalnya terbagi secara horizontal (berdasarkan suku, ras, dan agama), pasca tahun 1905 dan diperkuat masa depresi ekonomi global mulai terbagi secara vertikal (berdasarkan modal ekonomi). Selanjutnya->