Category: ESAI LANGGAS

MENGAPA DENTUMAN BESAR “MEMPERSEMPIT” TUHAN?

Sosiolog klasik, Comte, selalu menyatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat terjadi secara unilinier. Teori yang terlalu melekat dalam paradigma Newtonian memang kerap kali memiliki validitas rendah dalam ilmu sosial. Namun, ada satu nilai yang dapat dipahami dari progres unilier dari teori Comte, atau mungkin seorang evolusionis seperti Spencer: masyarakat bergerak menuju pemahaman terhadap realitas secara lebih kompleks. Atau, dalam inti pemahaman Hukum Tiga Tahap Comte, progres masyarakat akan berakhir satu titik, yakni Masyarakat Positivistik, masyarakat yang mempercayai realitas empiris tanpa intervensi “ruh” maupun dewa-dewi metafisik. Dalam ranah ilmu sosial, pernyataan Comte (maupun Spencer, Tönnies hingga Ibn Khaldun) justru kurang relevan, ia justru akan menghapuskan dinamika struktur kuasa hingga mekanisme otonom agen, dan tentu, juga karena “tidak pernah titik akhir” dari masyarakat (walaupun saya selalu menyukai analoginya). Selanjutnya->

Advertisements

KEMATIAN ZYGMUNT BAUMAN HARI INI

Hari ini, salah satu ilmuan sosial paling berpengaruh di abad ke-20 meninggal dunia. Ia adalah seorang filsuf dan sosiolog yang berangkat dari kemasygulan terhadap fasisme dan modernitas semu, holocaust dan konsumerisme tanpa batas. Bauman berhasil memposisikan rongrongan fasisme dalam perjuangan, dari perjuangan fisik dan Cross of Valuour, hingga perjuangan akademik dan Penghargaan Adorno. Konsistensi kritik dan analisisnya terhadap psuedo-modernitas terus bertahan hingga akhir hayatnya, dan buku terakhirnya (yang baru akan terbit akhir bulan ini) berjudul Retrotopia, merupakan proses dialektika kritisnya terhadap Utopia ala Thomas More. Jika dalam Utopia, eksistensi harmoni antara sosial-ekonomi serta politik dan religiusitas berada pada pulau yang berbentuk bulan sabit dan ratusan mil nan jauh disana, dalam Retrotopia, semuanya justru ada di masa lampau, di tempat saat ini manusia berpijak. Bauman untuk terakhir kalinya, mengajak manusia menelisik masa lampau yang terabaikan, anomi yang justru dianggap fungsi, dan kebenaran yang diterima tanpa didekonstruksi. Selanjutnya->

APAKAH BAIK MEMAKSAKAN KEBAIKAN?

Definisi baik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) membentang pada definisi berikut: teratur; tidak jahat; selayaknya; sepatutnya; berbudi baik. Semua makna kata tersebut merujuk pada adjektiva positif, namun, apakah benar semua bentuk baik itu positif? Sehingga diperkenankan bagi semua orang untuk memaksakan kebaikannya? Kebaikan adalah sebuah psuedo kompleks, yang bersifat partikular dan jauh dari makna universal. Oleh karena itu, baik harus melekat dalam ruang partikularisme (x) itu sendiri, yang dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk abstraksi. Ruang partikular tersebut juga adalah sebuah arena reproduksi internal, yang berkontribusi terhadap konstruksi “normalitas” (atau apa yang “baik” dan “buruk”) bagi subjek dalam ruang. Ironinya, tataran “normalitas” tersebut adalah sebuah hal yang disfungsional, karena kembali lagi, tidak terdapat kebenaran yang mutlak dalam kebenaran ala ruang partikular. Kala “normalitas” tersebut dimanifestasikan dalam realitas, maka yang sebetulnya sedang dimanifestasikan adalah sebuah bentuk disfungsionalitas. Disfungsionalitas yang juga bermakna imanen, karena terhambatnya nalar dalam pandangan yang paralaks, dan bergerak sentrifugal menuju pencapaian makna parsial. Selanjutnya->

BAGAIMANA MEMBACA SINISME DIOGENES?

Diogenes telah menjadi simbol baru praktik “sinisme” di dunia filsafat Yunani pada abad ke-5 SM. Namun, namanya kerap dikenal sebatas pria pembenci yang tinggal dalam tong tua, dan pemaknaan kisahnya lebih dianggap sebagai humor belaka. Sedikit yang mengetahui bagaimana ia mengagumi estetika Antisthenes, atau bagaimana ia menolak dependensi sebagai bagian dari pencarian makna kebajikan yang sesungguhnnya. Diogenes dari Sinope, walaupun dalam konteks biografinya ia lebih banyak berkutat di Athens, dan mengakhiri kisahnya secara tertutup di Corinth. Siapapun dia, pada intinya Diogenes telah mengawali praktik sinisnme yang implikatif dan berdampak luas pada aspek filsafat hingga seni, khususnya literasi. Selanjutnya->

PEMBANGUNAN DAN DISTRIBUSI DEPENDENSI

Makna “pembangunan” pada dasarnya adalah partikular dan diverse, dan karena ke-partikular-an tersebut, kerap kali makna “pembangunan” digiring menuju  homogenitas dan dijadikan dalih untuk melanggengkan berbagai kepentingan ekonomi dan politik  tertentu (khususnya bagi korporat, dan ‘negara kapitalis’ atau capitalist-state). Berangkat dari pernyataan Escobar, bahwa wacana “pembangunan global” terus berada pada bayang-bayang negara maju, yang pada saat yang bersamaan juga sedang menghantui negara-negara (yang dianggap) sedang berkembang. Namun, bayang-bayang tersebut tidaklah bebas nilai, bayang-bayang tersebut bahkan sarat dengan nilai, dan yang paling melekat adalah “nilai-nilai ekonomi kapitalistik”. Jika melihat pada ruang sejarah Indonesia, Robison dalam the Rise of Indonesian Capitalism dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia bukan atas “kehendaknya” sendiri untuk masuk dalam ruang “pembangunan global” dan jerat neoliberalisme, melainkan atas “kehendak” pihak lain. Khususnya bagaimana pada era kepemimpinan Orde Baru, Undang-Undang Penananaman Modal Asing (UU PMA) diratifikasi dan menjadi pintu masuk bagi berbagai korporasi besar. Bahkan, seperti disebutkan Suar Saroso bahwa UU PMA tersebut juga lahir akibat dorongan aksis-aksis bisnis internasional dan corong neoliberalisme kawasan Blok Barat: Truman Doctrine. Selanjutnya->

Carey dan Hauben: Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX

perempuan-perempuan-perkasa-di-jawa-abad-xviii-xix-686x1024

Buku ini tidak hanya memperlihatkan sosok-sosok besar seperti Ratu Kencana Wulan ataupun Nyai Ageng Serang. Tulisan singkat dalam buku ini menawarkan latar belakang dan atmosfir yang kelam, bernas dan berani menjadi sebuah kesatuan alinea yang mudah dicerna. Suatu upaya penguatan terhadap isu gender yang kerap mendapat porsi sedikit dalam ruang sejarah, baik dalam tulisan antropologis ala Geertz maupun kesejarahan ala Ricklefs.

Buku ini menawarkan data empiris tentang ruang kuasa para perempuan Jawa di pra-abad ke 20. Sebuah fakta yang membalik realitas kontemporer perempuan Jawa yang penuh dengan “kelembutan”. Tulisan ini juga membawa tesis bahwa, perempuan Jawa bukanlah sebatas perempuan domestik. Patriarki pada masa pra-kolonial memang telah terkonstruksi, tetapi pada masa itu pula para perempuan Jawa memiliki bargaining power untuk bertindak dan bergerak sama dengan para laki-laki, baik di ruang produksi dan bahkan militer.

Namun, kondisi tersebut pada akhirnya benar-benar berubah pasca masuknya kolonialisme di Nusantara. Para aparatur dan tentara kolonial hadir dengan aroma maskulinitas yang mendominasi. Implikasinya, perubahan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki, serta terciptanya demarkasi antara posisi superordinat dan juga subordinat. Pada akhirnya, buku ini merupakan uraian singkat namun pekat yang mampu mengubah cara pandang kita terhadap perempuan Jawa. Disamping itu, buku ini juga menawarkan cara pandang baru tentang bagaimana kolonialisme berhasil menaklukkan sendi-sendi penopang Kerajaan di Jawa.(28/07/16)

MENGAPA MARX MERAMAIKAN AGAMA?

Mendefinisikan pemikiran Marx dalam konteks agama berarti bermakna tunggal, yakni membuka perdebatan. Namun, hal ini tentunya juga dikarenakan pemikiran Marx yang memang jauh dari makna monolitas. Seperti halnya pendefinisian retakan epistemologis ala Althusser, sebagian kaum Marxis selanjutnya membentuk faksi dikotomis yang seolah mengedepankan orisinalitas Marx: Muda – Humastik vis-à-vis Tua – Ekonomistik. Marx muda kerap dianggap minor, dan dirasa sebatas proyek filsafat idealistik Marx, dan parsial dalam memahami realitas komperhensif penghisapan kapitalisme kontemporer.

Konsep alienasi dan kesadaran manusia menjadi isu konsentrasi Marx muda, konsep ini kerap diasosiasikan dengan bagaimana abstarksi ide menelanjangi manusia menuju titik terendah, setelah sebelumnya dilecehkan melalui pelucutan moda produksi. Intitusi suprastruktur yang menjadi kritik utama Marx juga menunjukkan bagaimana Marx memposisikan manusia sebagai subjek eksistensial, bukan sekedar objek mekanis yang berbondong tanpa gagasan, karena ada aspek suprastruktur yang juga harus direkonstruksi menuju keselarasan dalam kesetaraan kelas. Selanjutnya->