Category: ESAI BOGA

MUSTIKARASA: NASI GORENG

Resep ini meruapakan salah satu yang paling populer diantara ribuan resep Mustikarasa. Hanya terdapat satu resep Nasi Goreng dalam buku ini, namun pada bagian bawah telah disebutkan, bahwa sisa-sisa makanan seperti daging sapi maupun ayam dapat dicampurkan dalam masakan ini. Kondisi tersebut seolah menyatakan bahwa Nasi Goreng adalah elementer, sebuah “blank” aliment, sebuah tabula rasa.  Itulah mengapa selalu tepat mencampurkan nasi goreng dengan apapun, dari daging-daging merah hingga sayur-mayur hijau.

Tetapi menurut hemat saya. sebagai buku pandunan masakan (sekaligus pangan) Indonesia, Mustikarasa seharusnya menempatkan variasi Nasi Goreng secara lebih komperhensif. Nasi Goreng secara etimologis sudah memposisikan dirinya sebagai “alternatif pangan”, memanfaatkan semua bahan makanan sisa dan tidak layak menjadi sebuah fōrma baru. Selanjutnya->

MUSTIKARASA: SAMBAL GORENG TAHU

Resep ini merupakan salah satu resep pertama yang saya coba dari Mustikarasa. Pada dasarnya, makanan ini menggunakan bumbu dan rempah yang sama dengan jenis Sambal Goreng lainnya, hanya saja menggunakan bahan dasar tahu (namun tetap ada perbedaan kecil, sebagai contoh pada bumbu Sambal Goreng Pepaja Muda, Sambal Goreng Kol & Sambal Goreng Kretjek terdapat penambahan bumbu terasi, sedangkan pada Sambal Goreng Lombok terdapat penambahan kecap manis).

Penyebutan asal resep dari Djawa Barat (Jawa Barat) dalam resep ini sebetulnya agak berbeda dengan genealogi tahu itu sendiri. JJ Rizal pernah menyebutkan bahwa tahu dibawa dan berkembang di Nusantara melalui asimilasi budaya dengan Tionghoa (tahu berasal dari kata tao-hu atau teu-hu,  kata tao/teu memiliki arti “kacang kedelai”, sedangkan hu berarti “hancur – lumat”), dan diketahui banyak dimanfaatkan di kawasan Jawa Tengah. Namun pada abad ke-18 tahu mulai menyebar di seluruh kawasan Jawa, sebagai konsekuensi dikenalnya tahu sebagai “penyelamat gizi” masyarakat pada masa tanam paksa. Selanjutnya->