MENGAPA DENTUMAN BESAR “MEMPERSEMPIT” TUHAN?

Sosiolog klasik, Comte, selalu menyatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat terjadi secara unilinier. Teori yang terlalu melekat dalam paradigma Newtonian memang kerap kali memiliki validitas rendah dalam ilmu sosial. Namun, ada satu nilai yang dapat dipahami dari progres unilier dari teori Comte, atau mungkin seorang evolusionis seperti Spencer: masyarakat bergerak menuju pemahaman terhadap realitas secara lebih kompleks. Atau, dalam inti pemahaman Hukum Tiga Tahap Comte, progres masyarakat akan berakhir satu titik, yakni Masyarakat Positivistik, masyarakat yang mempercayai realitas empiris tanpa intervensi “ruh” maupun dewa-dewi metafisik. Dalam ranah ilmu sosial, pernyataan Comte (maupun Spencer, Tönnies hingga Ibn Khaldun) justru kurang relevan, ia justru akan menghapuskan dinamika struktur kuasa hingga mekanisme otonom agen, dan tentu, juga karena “tidak pernah titik akhir” dari masyarakat (walaupun saya selalu menyukai analoginya). Tetapi, jika direduksi dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu alam, pernyataan Comte justru menjadi relevan, dan menunjukkan bagaimana perkembangan sains menggiring masyarakat pada pemahaman realitas fisik, dan membentuk kantung-kantung organik yang medekonstruksi realitas dewa-dewi dan keterbatasan ala Abrahamik pada era kontemporer. Pasca Abad Ke-16, gagasan heliosentrisme mulai gencar dan terus berkembang seiring gelombang abad pencerahan, dari Copernicus sampai Kepler, semuanya berusaha membalik logika otoritas keagamaan melalui sains. Revolusi sains melalui Astronomia Nova pada abad Ke-17 pun menjadi bentuk baru pemahaman manusia terhadap bumi, serta posisi bumi yang subtil dalam sistem tata surya, hingga akhirnya, bagaimana tata surya ini terbentuk.

DENTUMAN DAN SEBARAN ELEMEN

Witten hingga Hawking sering menggaungkan apa yang disebutnya sebagai Teori M, bahwa alam semesta dapat tercipta dari ketiadaan, dan alam semesta ini bukanlah satu-satunya alam semesta. Democritus sejak Abad Ke-5 SM telah menyatakan tentang “kekekalan” konstruksi atom dan kaitannya dengan materi di alam semesta, Teori M pun demikian, ia berangkat dari Teori String yang berusaha membedah partikel level sub-atom hingga titik terendah dengan mencari persamaan matematisnya, dan menjelaskan bagaimana interaksi partikel tersebut bekerja dan membentuk “ruang”. Namun, Teori String tidak memiliki “dimensi” untuk mencari persamaan tersebut, sehingga Teori M muncul dengan “dimensi” ke-11 (dimensi dalam Teori String adalah 10) untuk membedah sang partikel sub-atom. Pengkuantifikasian partikel dalam Teori M melalui persamaan tersebut akhirnya mampu mengartikulasikan dimensi ruang, dan demikian, pemahaman konteks ruang dan waktu menjadi (potensial) sangat jelas tanpa adanya intervensi prima causa. Dan berarti, Teori M berusaha membuktikan bagaimana ruang dan alam semesta terbentuk dari empirisme ilmiah dan hukum-hukum fisika. Dari pemahaman tersebut, alam semesta dimungkinkan tercipta dari ketiadaan, dan dengan demikian, kapan ruang dan waktu yang kita jajaki saat ini tercipta?

Pemahaman terdasar dari astronomi fisika adalah tidak ada “ruang dan waktu” yang saat ini kita tinggali sebelum titik dentuman besar. Dentuman Besar tidak hanya menciptakan ruang, melainkan juga waktu, dan yang terpenting: elemen hidrogen.  Sebelum ke transformasi hidrogen, perlu dipahami bahwa analisis Hubble pada tahun 1920-an secara empiris telah menunjukkan bahwa berdasarkan spektrum cahaya, galaksi bergerak menjauh. Atau dengan silogisme premis Hubble, maka alam semesta pernah berada di suatu titik yang memiliki ruang mini dengan densitas tinggi, atau titik inti itulah dimana dentuman besar itu terjadi. Seorang astronom Inggris, Eddington, menganalogikan pasca-dentuman besar dengan gerak permukaan balon raksasa, yang apabila diisikan gas dapat terus mengembang namun tidak mengganti (atau mengubah bentuk) materi yang berada di dalamnya.

Kembali pada elemen hidrogen, zat tersebut (dan akibat daya gerak gravitas elemen itu sendiri) lambat laun terkosentrasi, melebur, terbentuk kembali, dst. hingga menciptakan berbagai reaksi pada alam semesta, dan menjadi penanda bagaimana alam semesta berekspansi dan  bergerak menuju kompleksitas yang lebih tinggi. Hingga pada akhirnya dinamika “tercipta dan hancur” tersebut menghasilkan berbagai zat lainnya dan sebarannya membentuk berbagai forma baru: Bintang dan Planet. Bintang yang paling awal terbentuk salah satunya adalah matahari, dan matahari terbentuk dari dua elemen utama alam semesta pasca-dentuman besar, yakni hidrogen dan helium. Hawking dalam The Grand Design, dengan jelas menyatakan formasi awal alam semesta terdiri dari sebagian besar hidrogen (> 50%), 23% helium dan sedikit litium. Angka tersebut muncul (dan berkesesuaian) dengan pengamatan kelimpahan helium hingga analisis Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR), hal ini terus dilakukan untuk mendalami “sisa” dan peninggalan forma alam semesta pada awal pembentukannya. Bukti tersebut cukup menunjukkan, bahwa secara ilmiah partikel alam semesta awal (melalui dentuman besar) telah bertransformasi menjadi struktur-struktur semesta yang rumit, yang pada akhirnya berkaitan dengan sistem orbit untuk menciptakan “stabilitas” di ruang dan waktu yang lebih kontemporer (terlebih, sebagian besar sistem orbit alam semesta kita adalah sistem biner, sehingga peluang ketidakstabilan orbit dan kondisi planet jauh lebih besar).

Pasca terbentuknya bintang dan planet yang beragam akibat dekomposisi berbagai zat dan elemen, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, “stabilitas” menjadi urgensi tersendiri (dan khususnya menjadi prakondisi untuk terciptanya mekanisme “kehidupan”). Bumi, adalah salah satu contoh bagaimana statistika bekerja, diantara sistem orbit biner (lonjong) yang menciptakan fluktuasi suhu dan geologi, sistem orbit lingkaran tercipta dari mekanisme alam semesta dan reposisi gravitasi. Orbit lingkaran ini jauh lebih memiliki stabilitas suhu, dan khususnya daya lenting dari berbagai “kekacauan” luar angkasa. Massa planet juga sangat berpengaruh, sehingga stabilitasnya dapat terjaga. Pada akhirnya, Bumi menjadi salah satu objek semesta yang tepat strukturnya, sehingga mampu menghadirkan suatu prakondisi kehidupan. Dalam konsepsi astronomi, kemunculan objek (khususnya planet) yang berada pada titik kesetimbangan seperti di Bumi, kerap diklasifikasikan sebagai mereka yang berada pada Goldilocks Zone (CHZ). Pada titik ini, Bumi hanyalah salah satu dari berbagai planet dan objek analog lainnya di alam semesta yang berada dalam Goldilocks Zone, dan menunjukkan bagaimana Goldilocks Zone pun hanya salah satu dari impak mekanisme kompleks dentuman besar yang terjadi pada 14.8 miliar tahun yang lalu.

KELAHIRAN CELAH EKSISTENSI

Masyarakat Yunani secara mitologis telah menjelaskan bagaimana alam semesta ini juga dimulai dari ketiadaan, berawal dari Chaos yang selanjutnya memunculkan Gaia (Bumi) hingga Erebus (Kegelapan). Hal ini juga secara tidak langsung menunjukkan bagaimana Mitologi Yunani berawal dari hal-hal kecil dan terdasar, lalu seiring dengan kompleksitas manusia itu sendiri, dewa-dewi spesifik dimunculkan untuk menjelaskan berbagai fenomena yang tidak dapat terjelaskan. Sebagai contoh, Mitologi Yunani memunculkan Gaia sebagai personifikasi “Ibu Bumi”, lalu hubungannya dengan Uranus yang merupakan personifikasi “Ayah Langit”, melahirkan para Titans, diantaranya Zeus (God of Storms) dan Hera (God of Marriage and Family – yang kultus terhadapnya merupakan salah satu yang paling masif pada era 800-an SM), yang lalu dari hubungan kedua anak tersebut lahirlah Ares (God of War) yang juga merupakan ayah dari Phobos (God of Fear) dan Eros (God of Love). Dewa dan Dewi Yunani selalu diposisikan dalam kebutuhannya terhadap fungsi masyarakat, oleh karenanya mereka bertahan sangat lama dan menjadi kultus utama untuk berbagai pemenuhan keamanan dan hasrat manusia.

Sampai pada akhirnya gelombang awal filsafat Yunani muncul, Thales dari Miletus pada abad ke-7 sm mulai mempertanyakan eksistensi awal mula kehidupan diluar intervensi Zeus dan Appolo. Bahkan, pemahamannya terhadap geometri secara tidak langsung “menggeser” Erebus sebagai representasi ruang kegelapan di luar Gaia dengan pengistilahan space (atau luar angkasa) Walaupun masih banyak terpengaruh oleh idealisme mitologi Yunani, Thales setidaknya menjadi titik pijak manusia yang mulai mengekstraksi pemikirannya secara koheren melalui rasio manusia itu sendiri. Thales juga melihat air sebagai substansi utama kehidupan (yang sebetulnya “ada benarnya” jika dikaitkan dengan proses evolusi prokariot sampai bilateria, khususnya selom, yang juga dominan di air), namun, pemikiran tersebut belum banyak berkembang sampai akhirnya Aristoteles mengangkat tesis Thales dan berkembang menjadi diskursus basis substansi. Pada era itu juga (Abad Ke-3), perkembangan sains Yunani tetap eksis walaupun harus dibayang-bayangi dominasi Roma, dan salah satu titik puncaknya adalah Alexandria, dimana Hipparchus mencatat bintang-bintang tetap, Aristarchus mengukur diameter bulan (dan sedikit soal pergerakannya), dan tentunya, Euclid sang Bapak Geometri, yang berusaha menjelaskan eksistensi ruang di alam semesta secara lebih holistik.

Sains pada masa Yunani Klasik pun secara tidak langsung “menutup” pintu bagi beberapa Dewa dan Dewi mitologi yang sebelumnya di kultuskan. Hal ini terus berkembang dengan titik puncak di Abad Renaissan dengan bergesernya astrologi menjadi astronomi ala Copernicus, serta sains ala Galileo hingga Kepler. Gerakan reformasi Martin Luther dan Calvin juga tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu titik bagaimana sains (dan khsusunya pemikiran bebas) berkembang, agama tidak dapat dimaknai secara dogmatik dan kembali menghasilkan pukulan telak ke belakang pada sains (walaupun pada perkembangannya, Missouri Synod yang notabenenya gereja Lutheran juga mendoktrin geosentrisme). Namun, keterkaitan antara sains dan reduksi otoritas agama jelas membuka peluang sains dalam menjelaskan fenomena alam secara lebih komperhensif. Sebagai contoh, otoritas gereja yang pada awalnya sempat mengurung Galileo dan segala tesis Copernicus, lambat laun mulai menyadari bahwa astronomi modern dan pernyataan Bumi bukan pusat alam semesta adalah benar. Walaupun otoritas gereja juga berangkat dari Mazmur 19:7 yang jelas mengatakan bahwa “Its rising is from one end of the heavens, And its circuit to the other end of them; And there is nothing hidden from its heat “, atau dengan kata lain, Matahari sang pembawa cahaya panaslah yang terbit dan beredar mengelilingi bumi, namun interpretasinya bergeser dan jadi balik mengakui heliosentrisme. Demikian dengan kitab samawi lainnya, dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah 2:258 dengan jelas disebutkan bahwa: “Indeed, Allah brings up the sun from the east, so bring it up from the west”, atau dengan kata lain, mataharilah yang terbit dari timur dan terbenam dari barat, sedangkan bumi statis menempati  posisinya, namun kembali, terdapat juga penganut islam yang mengembangkan pemahamannya terhadap heliosentrisme.

Perkembangan dan keterbukaan sains secara global pada Abad Rennaisans ditandai dengan satu hal: pembenturan paling klasik dan konkrit antara agama dan sains. Walaupun sebagian besar humanis menganggap keduanya dapat berjalan beriringan, beberapa fundamentalis sains dan/atau agama memposisikannya justru secara biner. Masing-masing menciptakan pembenarannya tersendiri, bagi sains, peletekan Zeus sebagai Dewa Petir dan Cuaca akibat ketidakmampuan kita menjelaskan lempengan dan mekanisme elektron di langit, demikian yang juga terjadi dengan Chaac di keyakinan Suku Maya, atau Cocijo pada peradaban Zapotec di Amerika Selatan, semuanya akibat “lubang” yang belum mampu dijelaskan oleh sains, sehingga ketika “lubang “ tersebut terisi oleh penjelasan sains, maka konsep tuhan atau dewa-dewi yang spesifik akan dihapuskan (konsep God of the Gaps). Demikian perspektif keagamaan, keberadaan lempengan dan elektron dalam mekanisme petir tetap tidak dapat hadir tanpa keberadaan sang Adi Kuasa, dan dalam hal ini, sang Adi Kuasa sebagai Prima Causa. Namun, kalaupun memang mekanisme petir mampu dijelaskan secara ilmiah, maka semuanya akan ditarik pada aspek yang belum dapat terjelaskan oleh sains, yang pada akhirnya, juga tetap akan menjadi pembukti dasar prima causa bagi para kreasionis.

Dalam konsep dentuman besar, sains berusaha menjelaskan keberadaan dari ketiadaan, dan dengan kata lain, ia berusaha menghapus dan mengisi “lubang-lubang” yang sebelumnya tidak mampu dijelaskan oleh nalar manusia. Pasca dentuman besar, bagi para penganut positivisme ilmiah, sebagian besar misteri alam semesta telah terjawab, dan potensi hadirnya Teori M (dan Teori Segalanya)  menjadi jauh lebih nyata.  Namun, bagi para kreasionis, prima causa tetap eksis, namun memang tidak dapat dipungkiri berada dalam ruang yang lebih sempit, dari yang sebelumnya membentang pada gejala alam, rotasi bumi, hingga gerak bintang, menjadi apa yang memang belum atau tidak dapat teramati oleh sains, salah satunya adalah terkait penciptaan dan asal muasal gravitasi. Gravitasi adalah elemen kunci, yang mengikat hidrogen dan menghasilkan proses “tercipta dan hancurnya” bintang dan planet pada awal kemunculan alam semesta. Dan hingga saat ini, gravitasi belum mampu dijelaskan “perilakunya” serta asal muasal eksistensinya. Namun pada titik ini, dapat dipahami bahwa “lubang-lubang” yang banyak tercipta sejak era Yunani Klasik mulai terisi, sehingga tesis dasarnya: “semakin ia mampu mengisi “lubang”, maka makin “sempit” kerja Tuhan dan dewa-dewi dalam ruang fenomena semesta”.

Pada tahap ini, saya termasuk orang yang sama sekali apatis terhadap perdebatan pembenaran sains maupun agama. Karena dapat dipahami, bahwa sains dan agama menempati dua dimensi dan faset yang berbeda. Sains bekerja untuk memberikan “bukti ilmiah” atas fenomena alam, dan Agama (iman) bekerja untuk memberikan “nilai aktualisasi” atas fenomena alam, atau dengan kata lain, Sains mencari dan menciptakan bukti, sedangkan Agama (iman) tidak. Namun jika demikian, apakah berarti tidak ada “nilai” dalam penjelasan ilmiah? Jelas ada, dan rigid, namun dalam makna yang berbeda. Dan agama beserta imanensinya memiliki fungsi dan nilai tersendiri yang khas, terlebih bila berbicara terkait dengan masyarakat lokal, inidividu dan agen otonom beserta kultur spasial yang justru sangat resiprokal seperti yang dibahas secara kritis oleh Fikret Berkes, atau urgensi keyakinan metafisik yang justru mengukuhkan livelihood capital dalam konsepsi Frank Ellis. Oleh karenanya, walaupun memang kerap menciptakan romantisme tersendiri, agama dan sains tidak dapat saling mengintervensi pada tahap yang substansial, atau dengan demikian, mensyaratkan sebuah kondisi ilmu yang bebas nilai (value free science). Pada intinya, dentuman besar beserta Teori M (dan segala pengembangannya) merupakan salah satu titik terbesar dalam penjelasan ilmiah alam semesta, persoalan ketidakpercayaan pada titik pembentukan tersebut beserta “lubang-lubang” yang telah diisikannya hanya menyangkut keyakinan, serta ego untuk ketidakinginan atas kebenaran semesta yang terukur, dan tentunya, ego untuk tetap menyimpannya sebagai misteri yang akan (dan memang sengaja) tidak dipecahkan. (13/01/17)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s