KEMATIAN ZYGMUNT BAUMAN HARI INI

Hari ini, salah satu ilmuan sosial paling berpengaruh di abad ke-20 meninggal dunia. Ia adalah seorang filsuf dan sosiolog yang berangkat dari kemasygulan terhadap fasisme dan modernitas semu, holocaust dan konsumerisme tanpa batas. Bauman berhasil memposisikan rongrongan fasisme dalam perjuangan, dari perjuangan fisik dan Cross of Valuour, hingga perjuangan akademik dan Penghargaan Adorno. Konsistensi kritik dan analisisnya terhadap psuedo-modernitas terus bertahan hingga akhir hayatnya, dan buku terakhirnya (yang baru akan terbit akhir bulan ini) berjudul Retrotopia, merupakan proses dialektika kritisnya terhadap Utopia ala Thomas More. Jika dalam Utopia, eksistensi harmoni antara sosial-ekonomi serta politik dan religiusitas berada pada pulau yang berbentuk bulan sabit dan ratusan mil nan jauh disana, dalam Retrotopia, semuanya justru ada di masa lampau, di tempat saat ini manusia berpijak. Bauman untuk terakhir kalinya, mengajak manusia menelisik masa lampau yang terabaikan, anomi yang justru dianggap fungsi, dan kebenaran yang diterima tanpa didekonstruksi.

Retrotopia dapat dipastikan tetap berdiri dari titik pijak modernitas likuidnya (liquid modernity), yang pada dasarnya juga simetris terhadap disfungsi ala “pasca-modernisme” dalam makna sebagian besar filsuf kontinental. Bagi Bauman, modernitas likuid adalah titik dimana konformitas menjadi kultus, dan pergeseran budaya menjadi ambivalen dalam makna yang garib. Perubahan sosial pasca Perang Dunia Ke-II memang telah menjadi titik pergeseran utama dari society as producer menuju society as consumer, dan ironinya, kondisi tersebut terus diprodusir pada fatalisme berkedok kebebasan. Kapitalisme mereproduksi fatalisme melalui mekanime kreatif menuju penawaran gagasan “kebebasan”, yang justru sebetulnya parsial dan mengkonstruksikan disparitas: kebebasan dalam mengeksploitasi hingga kebebasan dalam mengakumulasikan kapital. Karena kecairannya, gagasan tersebut mudah terdistribusi, dan “modernitas” menjadi kamar tertutup yang mengakomodir pergerakan tersebut, hingga berujunglah pada over-dosis cairan, memenuhi volume kamar, dan menenggelamkan segala aspek ke-khas-an dan individu sadar.

Kondisi ini semakin diperparah karena dalam modernitas likuid,  “molekulnya” relatif bebas dan mampu mengubah kedudukan atau komposisi “pihak lain”, atau dalam konteks sosial, modernitas likuid menghasilkan kegoyahan “kolektivitas”, yang jelas menjadi penghambat dalam memaknai geliat kapitalisme. Ciri mendasar dari modernitas likuid adalah dualitasnya yang involutif: (1) Modernitas likuid menghasilkan kapitalisme tahap lanjut yang sulit dibendung; (2) Modernitas likuid menghasilkan masyarakat sipil tahap lanjut yang sarat disintegrasi. Kecairan ini yang terus menjadi pembahasan tanpa henti dari Bauman, menandakan kekhawatirannya terhadap realitas yang semakin terdegradasi melalui ancaman-ancaman yang tidak nampak, dan semakin jauh dari makna keadilan sosial yang inklusif.

“The world full of possibilities is like a buffet table set with mouth-watering dishes, too numerous for the keenest of eaters to hope to taste them all……The consumers’ misery derives from the surfeit, not the dearth of choices”  – Liquid Modernity

Bauman telah menjadi satu dari sederet gelombang akademis yang mengangkangi isu modernitas dari sudut pandang yang sangat khas. Namun sayang, ia tidak dapat hidup sedikit lebih lama lagi, dimana kemungkinan terbesar dari evolusi “molekul” dalam modernitas cair dimungkinkan: era yang defisit dengan kebenaran, dehumanisasi teknologi hingga artificial intelegence yang terus dikonstruksikan sebagai capaian aktualisasi. Sampai kapankah titik tersebut akan berputar? Akankah modernitas mencapai titik sublimasi? Atau secara personal, siapa yang akan terus menelisik morfogenesis “modernitas” tersebut secara konsisten? Pada bulan Januari sejak awal Abad Ke-21, tiga sosiolog besar pengangkang modernitas telah tiada: Bourdieu di Januari Tahun 2002, Beck di Januari Tahun 2005, dan Bauman di Januari Tahun 2017. Pembacaan teori sosiologis tiga ilmuan sosial tersebut memang terus berkembang hingga saat ini. Namun, seperti pernyataan sebagian besar filsuf analitik, bahwa mereka yang berada di jalur “kontinental” seolah cenderung memposisikan dirinya sebagai hippies dan terus berkutat dalam alam pikiran internal mereka (dan filsuf mereka) sendiri. Jika merefleksikan Bauman, manusia yang berpikir memang yang manusia yang menelisik masa lalu, namun tentunya bukan dalam titik statis dan linier seperti yang disebutkan oleh para analitik, melainkan titik-titik diakronis dan dialektis, yang bahkan menuntut transmutasi pemikiran untuk terus meningkatkan kadar “kesadaran” pada individualitasnya sendiri. (09/01/17)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s