APAKAH BAIK MEMAKSAKAN KEBAIKAN?

Definisi baik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) membentang pada definisi berikut: teratur; tidak jahat; selayaknya; sepatutnya; berbudi baik. Semua makna kata tersebut merujuk pada adjektiva positif, namun, apakah benar semua bentuk baik itu positif? Sehingga diperkenankan bagi semua orang untuk memaksakan kebaikannya? Kebaikan adalah sebuah psuedo kompleks, yang bersifat partikular dan jauh dari makna universal. Oleh karena itu, baik harus melekat dalam ruang partikularisme (x) itu sendiri, yang dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk abstraksi. Ruang partikular tersebut juga adalah sebuah arena reproduksi internal, yang berkontribusi terhadap konstruksi “normalitas” (atau apa yang “baik” dan “buruk”) bagi subjek dalam ruang. Ironinya, tataran “normalitas” tersebut adalah sebuah hal yang disfungsional, karena kembali lagi, tidak terdapat kebenaran yang mutlak dalam kebenaran ala ruang partikular. Kala “normalitas” tersebut dimanifestasikan dalam realitas, maka yang sebetulnya sedang dimanifestasikan adalah sebuah bentuk disfungsionalitas. Disfungsionalitas yang juga bermakna imanen, karena terhambatnya nalar dalam pandangan yang paralaks, dan bergerak sentrifugal menuju pencapaian makna parsial.

Karena gerak disfungsionalitas tersebut sangat cepat (karena ruang partikular juga adalah ruang “reproduksi” internal), berbagai wacana dan diskursus yang dibangun pada akhirnya berimplikasi pada dua hal: keyakinan positif (+) dan/atau keyakinan negatif (-). Kala yang dominan adalah keyakinan +, hal tersebut akan berdampak lagi pada konfigurasi aktualisasi diri (self-esteem) subjek dalam ruang. Aktualisasi diri akan mendorong subjek pada ruang partikular baru (y), namun sifatnya kongruen (xy). Bermakna kongruen karena pada dasarnya ruang tersebut tidak melepas “format fundamennya”, melainkan hanya “menggeser” ruangnya menuju aksis vertikal yang lebih curam, yang menjadikan subjek menggantungkan diri hampir sepenuhnya pada ruang tersebut. Ruang partikular (y) lalu terus mendorong subjek pada proyeksi pencapaian “pemenuhan” aktualisasi diri yang membentuk keamanan subjek. Hal ini pada akhirnya diutunjukkan oleh seperti bagaimana subjek merepsons diktum yang lahir dalam ruang partikular sebagai suatu personifikasi kebenaran. Implikasinya, aktualisasi diri lahir sebagai bentuk pemenuhan hasrat yang tidak terdefinisi. Termasuk maksim-maksim kebaikan, yang jika mengutip konsepsi Lacan, justru hadir sebagai objet petit a. Makna a dalam lacan adalah autre, atau yang “lainnya”, ia adalah bentuk “hasrat yang lain”, karena ia muncul sebagai forma paripurna yang dikonstruksikan pihak lain, namun tidak ditujukan untuk “diperoleh” oleh subjek selainnya. Berangkat dari titik tersebut, subjek yang terus berusaha menggapai objet petit a secara langsung maupun tidak langsung mulai mencarinya melalui objek-objek lain, yang tidak jarang kerap dianggap lebih inferior.

Aktualisasi diri yang pada awalnya dimaknai sebagai ranah personal, mulai berkembang pada ranah eksternal. Aktualisasi diri (self-esteem) mulai bergeser menjadi evaluasi diri (self-evalutaion), proses “pemeriksaan” diri yang merujuk pada diktum-diktum “kebaikan” dalam ruang partikular. Kala merasa tidak cukup “aktual”, proses evaluasi diri (self-evaluation) kembali bergeser menjadi evaluasi sosial (social-evaluation). Kembali, manifestasi ruang partikular pada dasarnya adalah manifestasi disfungsional, karena secara praktis yang dilakukannya dengan “memeriksa” objek sosial lainnya merupakan bagian dari pencarian objet petit a. Proses dan kehendak untuk memenuhi hasrat subjek, motif personal dan sifatnya untuk mencari keamanan fisik dan imanensi pribadi. Proses “pemeriksaan” tersebut semakin ironi kala dikembangkan bersama justifikasi biner, dan akan menggeser “pemeriksaan” menuju “pemaksaan”. Jika “pemeriksaan” saja telah bermakna begitu disfungsional, bagaimana jika dilakukan dalam ranah “pemaksaan”? Pemaksaan berasal dari kata dasar paksa, yang jika merujuk KBBI memiliki makna: mengerjakan sesuatu yang diharuskan walaupun tidak mau. Jelas, tidak hanya disfungsional, namun juga bentuk diskontinuitas humanitas sebagai manusia. (03/12/16)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s