BAGAIMANA MEMBACA SINISME DIOGENES?

Diogenes telah menjadi simbol baru praktik “sinisme” di dunia filsafat Yunani pada abad ke-5 SM. Namun, namanya kerap dikenal sebatas pria pembenci yang tinggal dalam tong tua, dan pemaknaan kisahnya lebih dianggap sebagai humor belaka. Sedikit yang mengetahui bagaimana ia mengagumi estetika Antisthenes, atau bagaimana ia menolak dependensi sebagai bagian dari pencarian makna kebajikan yang sesungguhnnya. Diogenes dari Sinope, walaupun dalam konteks biografinya ia lebih banyak berkutat di Athens, dan mengakhiri kisahnya secara tertutup di Corinth. Siapapun dia, pada intinya Diogenes telah mengawali praktik sinisnme yang implikatif dan berdampak luas pada aspek filsafat hingga seni, khususnya literasi.

Socrates yang Menggila

Banyak perilaku Diogenes yang menjadi gambaran dari bagaimana seorang sinis bertindak. Khususnya terkait dengan penolakannya terhadap konformitas dan pengakuannya terhadap relativitas nilai sosial. Sebuah pernyataan menarik muncul dari Plato, yang menyatakan bahwa Diogenes adalah Socrates yang menggila. Namun, mengapa Socrates? Apakah Diogenes memang analog dengan Socrates? Jika Ya, dalam hal apa? Socrates dikenal sebagai Sang Bijak oleh Pythia, yang kerap mengitari pasar tanpa alas kaki untuk berdebat. Ia menekankan pengetahuannya pada etika, tentang moralitas dan keadilan, dan cara manusia menemukan kesederhanaan. Paradoks Socrates yang berkembang melalui Plato juga menjadi salah satu kunci kebijakan pemikirannya, “I know that I know nothing”. Pernyataan tersebut kerap diasosisikan pada kesadaran subjek terhadap ketidakpedulian (ignorance) yang dilakukannya, yang kadar kesadarannya (the more of knowing nothing) menunjukkan suatu prakondisi phronēsis, atau kebijaksanaan dan intelektualitas suatu subjek. Diogenes pun demikian, ia berjalan dengan lusuh dan tanpa alas kaki mengitari pasar, namun tidak hanya untuk berdebat, melainkan untuk makan di pelatarannya, hingga kencing atau sekedar berisitrahat. Pada intinya, ia menunjukkan sebuah versi ekstrem dari “kesederhanaan” Socrates, dan membawanya pada tataran yang lebih kasar.

Demikian dengan paradoks yang diimplementasikannya, ia dikenal sebagai seseorang yang selalu membawa lentera di siang hari, dan ia menjelaskan bahwa ia “sedang mencari seseorang yang bijak”. Pada tahap ini, “paradoks” tindakan Diogenes juga menghasilkan sebuah kondisi layaknya paradoks Socrates, namun setidaknya dapat dimaknai secara dua hal yang berbeda:

  1. Membawa lentera di siang hari adalah manifestasi tindakan untuk mencari “kebijakan” dalam makna sebenaranya. Pada titik ini, Diogenes dianggap sebagai seseorang yang terbuka dan simetri pada upaya pencarian kebenaran, dan kepercayaannya pada peluang kebajikan yang memang akan muncul pada ruang-ruang tertentu. Pemaknaan liniear tersebut justru secara tidak langsung juga menunjukkan kondisi yang sebaliknya, bahwa Diogenes adalah seseorang yang bijak, dan mampu menunjukkan kadar kesadarannya atas ketidaktahuan yang dimilikinya.
  2. Membawa lentera di siang hari adalah manifestasi suatu tindakan yang justru membunuh (atau meniadakan) tindakan itu sendiri. Spektrum elektromagnetik yang dihasilkan matahari justru akan mengaburkan dan bahkan menghilangkan pancaran cahaya yang dimunculkan oleh lentera. Dengan kata lain, Diogenes sedang melakukan tindakan yang tidak berguna yang diketahuinya sejak awal, dan dengan ini, ia hanya menggunakan lentera sebagai simbol, dan nampaknya lebih melekat pada simbol skeptisme.

Jika merujuk pada dua poin di atas, maka pada poin pertamalah makna “paradoks” Diogenes dapat diasosiasikan pada paradoks Socrates. Namun, pemaknaan kedua lebih melekat pada aroma skepstisme, khususnya paradoks Epimendes, yang juga merupakan filsuf dari Yunani kesohor. Paradoks Epimendes yang dikenal baik adalah sebagai berikut: “All Cretans are liars“, padahal, Epimendes adalah seorang Cretans. Dengan kata lain, Epimendes adalah seorang pembohong karena ia seorang Cretans, namun, jika ia sedang berbohong dan apa yang dikatakannya tidak benar, maka pada satu sisi Epimendes justru sedang jujur dengan menunjukkan sedari awal bahwa ia sedang berbohong. Paradoks tersebut juga menjadi sedikit relevan apabila dikaitkan dengan “paradoks” Diogenes, karena jika tindakan yang dilakukannya dengan membawa lentera di siang hari adalah tidak berguna, maka sebetulnya yang dilakukannya adalah berguna, karena setiap tindakan yang melekat dalam kata “guna” memiliki keterlekatan tujuan, atau dengan kata lain, walaupun tindakan tersebut tidak berguna, namun karena tindakan tersebut memiliki instrinsik tujuan maka ia menjadi berguna. Pembawaan lentera Diogenes memang memberikan keterbukaan makna, namun, pada titik ini dapat dimaknai bahwa pemaknaan tindakan Diogenes adalah tidak naif, ia memberi simbol pada tindakan untuk merekonstruksi kritik sosialnya.

Kembali pada relasi Socrates dan Diogenes, mungkin memang menjadi mudah apabila merujuk Socrates sebagai bentuk tesis dari kebijaksanaan dan Diogenes sebagai bentuk “anti-tesis” kebijaksanaan. Namun, pada dasarnya keduanya sedang melakukan dua hal yang berbeda, yang berarti, dua forma yang juga berbeda. Pelekatan Diogenes dalam tubuh Socrates justru hanya mereduksi karakter Diogenes sebagai manusia idiosinkratis, oleh karenanya penghapusan oposisi biner Diogenes dan Socrates menjadi relevan untuk kembali membaca Diogenes sebagai sosok pengagas sinisme murni. Diogenes adalah Diogenes, ia bukan Socrates yang Menggila, melainkan hanya satu dari sekian filsuf yang membaca Socrates dengan cara yang gila.

Sinisme dan “Kemajuan” Regresif

Apa jadinya jika kita tidak “sinis”? Terus menelan langgam modernitas, dan terpuruk dalam keterdedahannya. Dalam hal ini Diogenes menjadi benar, sinisme adalah integral dalam menolak metanarasi kehidupan. Kita adalah animalia, dan ordo primata yang menolak menapakan empat kaki atas nama fungsi kemajuan. Tapi, kemajuan macam apa? Kemajuan macam Chernobyl dan Goiânia?  Atau, kemajuan untuk adaptif dalam ekspansi kapitalistik, dan mereproduksi keinginan atas hasrat yang tidak terbatas? Pada realitas kontemporer, makna kemanusiaan telah begitu dikomodifikasi menuju titik yang jauh lebih nadir. Antisthenes, pernah menyatakan bahwa fundamen dari etika adalah kebajikan, dan dengan demikian, kita harus menggeser makna material pada titik terpinggir dari eksistensi diri. Diogenes pun demikian, dan bahkan membawa ide Antisthenes menuju ranah yang lebih aplikatif. Ia tidak lantas menjadi sinis akibat kebencian, melainkan ia menjadi sinis akibat keberpihakannya pada kemanusiaan. Baginya, kebijaksanan dan kemanusiaan hanya dapat diperoleh pada individu yang independen, yang tidak tenggelam dalam ruang oksimoron: laju peradaban yang regresif.

Diogenes berusaha mendemonstrasikan bentuk-bentuk baru manusia dalam memandang kehidupan, yang sebelumnya cenderung berada pada tataran wacana. Pengendalian diri menurut Diogenes tidak dilakukan dalam bentuk ahimsa maupun penolakan hasrat, namun justru mengembalikan diri pada himsa dan hasrat itu sendiri. Makna hasrat disini adalah hasrat yang kurang lebih serupa dengan definisi Aristoteles, yang dimaknainya sebagai orexis, hasrat secara umum. Manusia hanya “bergerak” jika digerakan daya penggerak objek hasrat. Aristoteles juga selalu menganalogikan hasratnya melalui binatang, tentang bagaimana respons sensori mereaksikan gejala aktif sekaligus pasif dalam diri binatang, yang juga berkorelasi terhadap gejalanya pada manusia. Hasrat bagi Aristoteles membentang dalam dua aspek, yakni appetion dan volition. Appetion  merupakan anasir terdasar hasrat manusia, yang nampaknya dalam pandangan Diogenes digeser menjadi satu-satunya kebutuhan hasrat yang ada. Diogenes seolah menolak konstruksi sosial yang telah mapan untuk memperoleh appetion, karena baginya, hal tersebutlah yang menunjukkan daya independensi manusia. Melekatkan embel-embel etika dan nilai sosial regresif dalam pencapaian appetion justru akan mereduksi manusia itu sendiri, yang baginya bahkan lebih baik menjadi seekor anjing dengan independensi yang dimilikinya. Mengapa anjing? Pada intinya, Diogenes memang mengagumi “kebijakan” seekor anjing. Layaknya  Deleuze dan Guattari yang mengagumi skizoprenia, Diogenes menganggap hanya perilaku anjinglah yang mampu menolak realitas imajiner yang dimapankan oleh interaksi sosial fragmentaris. Anjing dalam anggapannya adalah apatis, namun apatis dalam arti terbebas dari pretensi kemunafikan. Ia akan menggonggong pada siapapun yang dicurigainya, yang bertingkah aneh dan cemplang, namun bersikap setia pada ia yang memberikan reprositas kebajikan, layaknya Diogenes pada Antisthenes.

Alegori anjing dalam kisah Diogenes pada dasarnya tidak dapat dimaknai secara parsial. Setidaknya, dari kekagumannya terhadap perilaku elementer seekor anjing, Diogenes ingin menekankan bahwa ia menciptakan kultus anomali, ia tidak lagi mengagungkan kebijaksanaan Socrates maupun kemistikan Pythagoras. Jika mengutip Hobbes, ia seolah ingin kembali pada state of nature, dan “menggigit” manusia-manusia infantil yang bertindak tanpa melakukan kritik tindakan, dan menciptakan keputusan hasrat berdasarkan laju volition. Ia seolah kembali pada pernyataan Hobbes dalam Leviathan,  bellum omnium contra omnes! Satu manusia yang mencoba melawan semuanya, melawan kemanusiaan nirmanusia dan peradaban involutif.  Walaupun pada akhirnya, kita tidak dapat sepenuhnya menindak ortodoksi tindakannya, namun setidaknya kita mampu mensintesiskan kepercayaannya pada superiortias perbedaan dan perlawanan atas kesopanan dan kemapanan dungu. (01/12/16)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s