ROBOT ‘VOYEURISM’ DAN UPAYA REPOSISI KULTUR PATRIARKI

Beberapa hari yang lalu pembahasan dunia hiburan banyak menyoroti “kencan” absurd antara aktor Will Smith dan robot humanoid populer, Sophia. Sophia adalah robot humanoid dengan kecerdasan buatan yang diklaim paling mutakhir, dan sekaligus menjadi robot pertama di dunia yang memiliki status kewarganegaraan. Sophia mengantongi status kewarganegaraan Saudi Arabia, negara yang sangat kental dengan deretan argumen anti-otonomi atas tubuh perempuan. Lantas, dengan kondisi realitas pengekangan kebebasan hak atas perempuan yang luar biasa di Saudi Arabia, apakah pantas Sophia bertindak tanpa batas? Berkelana tanpa penutup aurat dan berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan suaminya? Selanjutnya->

Advertisements

2017: 5 Album Musik Rekomendasi

1. Trivium – The Sin And The Sentence

100000x100000-999-820x820

Album ini nampaknya menjadi album terbaik mereka setelah Shogun. Konsistensi kecepatan dan kompleksitas musiknya jelas meningkat di bandingkan beberapa album sebelumnya. Terlebih, si penggebuk drum baru, Alex Bent, berhasil membawa ketukan yang sangat ritmis ke musik Trivium yang mulai kembali pada nuansa-nuansa “muda” mereka, ada sedikit blast beat dengan tidak meninggalkan beban melodi ala thrash lawas.

2. Amenra – Mass VI

a2229860900_16

Entah mengapa alunan sludgy dari Amenra tidak pernah membosankan. Kali ini, Mass VI kembali membawa eksistensi Post-Metal ke ranah yang harmoni dengan spritualitas. Emosional, namun pada satu sisi menenangkan. Walaupun tidak banyak texture baru dari aspek gitar, lompatan antar distorsi dan petikan dalam satu komposisi lagu mereka hampir selalu terasa pas dan nyaman. Selanjutnya->

MENGAPA DENTUMAN BESAR “MEMPERSEMPIT” TUHAN?

Sosiolog klasik, Comte, selalu menyatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat terjadi secara unilinier. Teori yang melekat dalam paradigma Newtonian ini memang menjadi menarik untuk ditelisik koherensinya. Namun, ada satu nilai yang dapat dipahami dari progres unilier dari teori Comte, atau mungkin seorang evolusionis seperti Spencer: masyarakat bergerak menuju pemahaman terhadap realitas secara lebih kompleks. Atau, dalam inti pemahaman Hukum Tiga Tahap Comte, progres masyarakat akan berakhir satu titik, yakni Masyarakat Positivistik, masyarakat yang mempercayai realitas empiris tanpa intervensi “ruh” maupun dewa-dewi metafisik. Dalam ranah ilmu sosial, pernyataan Comte (maupun Spencer, Tönnies hingga Ibn Khaldun) justru kerap kali akan menghapuskan dinamika struktur kuasa hingga mekanisme otonom agen, dan tentu, juga karena “tidak pernah titik akhir” dari masyarakat (walaupun saya selalu menyukai analoginya). Selanjutnya->

KEMATIAN ZYGMUNT BAUMAN HARI INI

Hari ini, salah satu ilmuan sosial paling berpengaruh di abad ke-20 meninggal dunia. Ia adalah seorang filsuf dan sosiolog yang berangkat dari kemasygulan terhadap fasisme dan modernitas semu, holocaust dan konsumerisme tanpa batas. Bauman berhasil memposisikan rongrongan fasisme dalam perjuangan, dari perjuangan fisik dan Cross of Valuour, hingga perjuangan akademik dan Penghargaan Adorno. Konsistensi kritik dan analisisnya terhadap psuedo-modernitas terus bertahan hingga akhir hayatnya, dan buku terakhirnya (yang baru akan terbit akhir bulan ini) berjudul Retrotopia, merupakan proses dialektika kritisnya terhadap Utopia ala Thomas More. Jika dalam Utopia, eksistensi harmoni antara sosial-ekonomi serta politik dan religiusitas berada pada pulau yang berbentuk bulan sabit dan ratusan mil nan jauh disana, dalam Retrotopia, semuanya justru ada di masa lampau, di tempat saat ini manusia berpijak. Bauman untuk terakhir kalinya, mengajak manusia menelisik masa lampau yang terabaikan, anomi yang justru dianggap fungsi, dan kebenaran yang diterima tanpa didekonstruksi. Selanjutnya->

APAKAH BAIK MEMAKSAKAN KEBAIKAN?

Definisi baik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) membentang pada definisi berikut: teratur; tidak jahat; selayaknya; sepatutnya; berbudi baik. Semua makna kata tersebut merujuk pada adjektiva positif, namun, apakah benar semua bentuk baik itu positif? Sehingga diperkenankan bagi semua orang untuk memaksakan kebaikannya? Kebaikan adalah sebuah psuedo kompleks, yang bersifat partikular dan jauh dari makna universal. Oleh karena itu, baik harus melekat dalam ruang partikularisme (x) itu sendiri, yang dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk abstraksi. Ruang partikular tersebut juga adalah sebuah arena reproduksi internal, yang berkontribusi terhadap konstruksi “normalitas” (atau apa yang “baik” dan “buruk”) bagi subjek dalam ruang. Ironinya, tataran “normalitas” tersebut adalah sebuah hal yang disfungsional, karena kembali lagi, tidak terdapat kebenaran yang mutlak dalam kebenaran ala ruang partikular. Kala “normalitas” tersebut dimanifestasikan dalam realitas, maka yang sebetulnya sedang dimanifestasikan adalah sebuah bentuk disfungsionalitas. Disfungsionalitas yang juga bermakna imanen, karena terhambatnya nalar dalam pandangan yang paralaks, dan bergerak sentrifugal menuju pencapaian makna parsial. Selanjutnya->

BAGAIMANA MEMBACA SINISME DIOGENES?

Diogenes telah menjadi simbol baru praktik “sinisme” di dunia filsafat Yunani pada abad ke-5 SM. Namun, namanya kerap dikenal sebatas pria pembenci yang tinggal dalam tong tua, dan pemaknaan kisahnya lebih dianggap sebagai humor belaka. Sedikit yang mengetahui bagaimana ia mengagumi estetika Antisthenes, atau bagaimana ia menolak dependensi sebagai bagian dari pencarian makna kebajikan yang sesungguhnnya. Diogenes dari Sinope, walaupun dalam konteks biografinya ia lebih banyak berkutat di Athens, dan mengakhiri kisahnya secara tertutup di Corinth. Siapapun dia, pada intinya Diogenes telah mengawali praktik sinisnme yang implikatif dan berdampak luas pada aspek filsafat hingga seni, khususnya literasi. Selanjutnya->

MENGAPA MARX MERAMAIKAN AGAMA?

Mendefinisikan pemikiran Marx dalam konteks agama berarti bermakna tunggal, yakni membuka perdebatan. Namun, hal ini tentunya juga dikarenakan pemikiran Marx yang memang jauh dari makna monolitas. Seperti halnya pendefinisian retakan epistemologis ala Althusser, sebagian kaum Marxis selanjutnya membentuk faksi dikotomis yang seolah mengedepankan orisinalitas Marx: Muda – Humastik vis-à-vis Tua – Ekonomistik. Marx muda kerap dianggap minor, dan dirasa sebatas proyek filsafat idealistik Marx, dan parsial dalam memahami realitas komperhensif penghisapan kapitalisme kontemporer.

Konsep alienasi dan kesadaran manusia menjadi isu konsentrasi Marx muda, konsep ini kerap diasosiasikan dengan bagaimana abstarksi ide menelanjangi manusia menuju titik terendah, setelah sebelumnya dilecehkan melalui pelucutan moda produksi. Intitusi suprastruktur yang menjadi kritik utama Marx juga menunjukkan bagaimana Marx memposisikan manusia sebagai subjek eksistensial, bukan sekedar objek mekanis yang berbondong tanpa gagasan, karena ada aspek suprastruktur yang juga harus direkonstruksi menuju keselarasan dalam kesetaraan kelas. Selanjutnya->